AMANAT PRESIDEN
SOEKARNO
PADA
PEMBUKAAN SIDANG PERTAMA M. P. R. S.
DI
GEDUNG MERDEKA BANDUNG
PADA
HARI PAHLAWAN 10 NOPEMBER 1960
DEPARTEMEN
PENERANGAN R.I.
Saudara2 sekalian,
Sebagai
dikatakan oleh Pedjabat Ketua, maka pada ini hari akan dibuka sidang pertama
daripada Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara. Dan
pada saat itu, saja, Insja Allah, akan mengutjapkan amanat jang oleh
Pedjabat Ketua dinamakan : Amanat Negara.
pada saat itu, saja, Insja Allah, akan mengutjapkan amanat jang oleh
Pedjabat Ketua dinamakan : Amanat Negara.
Saudara2,
hari ini bukan sadja penting oleh karena Sidang pertama dari-pada Madjelis
Permusjawaratan Rakjat Sementara dibuka, Insja Allah, tetapi djuga oleh karena
sebagai Saudara2 mengetahui, hari ini adalah hari Pahlawan, jang pada hari ini
kita menghormati, memperingati djasa2 Pahlawan2 kita, Pahlawan2 dalam
perdjuangan kita,mentjari pelaksanaan daripada segenap tjita2 kita.
Dalam
mengingati segenap tjita2 kita, tidak boleh tidak kita harus ingat kepada apa
yang diwaktu jang achir2 ini selalu saja namakan Amanat Pen-deritaan Rakjat. Rakjat Indonesia
sedjak kehilangan kemerdekannja, jakni sedjak Indonesia didjadjah oleh
pendjadjah asing, jang ber-abad2 lamanja, mendjadilah satu rakjat jang
menderita. Menderita politik, menderita eko-nomis, menderita sosial, menderita
kulturil; bahkan juga menderita dalam
rasa hati kemanusiannja. Maka jikalau kita berkumpul ada ini hari, pada
hari jang amat penting ini penting kataku tadi olehkarena adalah hari Pah-
lawan dan hari Pembukaaan Sidang Pertama daripada MPRS; MPR Lembaga jang mutlak dituntut oleh Undang2 Dasar 45, maka tidak boleh tidak kita
harus mengenangkan akan penderitaan rakjat itu.
rasa hati kemanusiannja. Maka jikalau kita berkumpul ada ini hari, pada
hari jang amat penting ini penting kataku tadi olehkarena adalah hari Pah-
lawan dan hari Pembukaaan Sidang Pertama daripada MPRS; MPR Lembaga jang mutlak dituntut oleh Undang2 Dasar 45, maka tidak boleh tidak kita
harus mengenangkan akan penderitaan rakjat itu.
Dan sebagai tiap2 rakjat
jang menderita, maka rakjat Indonesia ingin melepaskan diri daripada
penderitaan itu. Dan dalam usaha untuk mele-
paskan diri daripada penderitaan itu, sekali lagi rakjat Indonesia men-
jalankan penderitaan2. Korbanan2 jang amat pedih. Untuk mengachiri pen-deritaan, rakjat Indonesia mendjalankan penderitaan. Ini tampaknja adalah
satu paradox, tetapi paradox sedjarah, hisrorical-paradox. Penderitaan rakjat jang dilakukan oleh rakjat untuk melepaskan diri daripada penderitaan, sudah dikenal oleh kita semuanja. Dikenal olah kita semuanja dalam bentuk Pah-lawan-pahlawan jang gugur, jang mereka itu arwahnya pada ini hari kita peringati.
paskan diri daripada penderitaan itu, sekali lagi rakjat Indonesia men-
jalankan penderitaan2. Korbanan2 jang amat pedih. Untuk mengachiri pen-deritaan, rakjat Indonesia mendjalankan penderitaan. Ini tampaknja adalah
satu paradox, tetapi paradox sedjarah, hisrorical-paradox. Penderitaan rakjat jang dilakukan oleh rakjat untuk melepaskan diri daripada penderitaan, sudah dikenal oleh kita semuanja. Dikenal olah kita semuanja dalam bentuk Pah-lawan-pahlawan jang gugur, jang mereka itu arwahnya pada ini hari kita peringati.
Dan
Pahlawan2 yang gugur ini bukan sadja jang gugur sedjak kita memasuki taraf
physical revolution didalam usaha kita untuk melepaskan diri
kita daripada penderitaan, tetapi Pahlawan jang gugur, djuga sebelum adanja
physical revolution kita itu, Pahlawan jang gugur dalam abad ke-17, Pah-
lawan-pahlawan jang gugur dalam abad ke-18, Pahlawan2 jang gugur dalam
abad ke-19, Pahlawan jang jang gugur dalam apa jang kita namakan Gerakan
Nasional, dan bukan sadja Pahlawan2 jang gugur, tetapi kita pada ini hari
djuga memperingati semua Pahlawan2 daridjang telah menunjukkan kepahlawanan-
nja diatas padang pelaksanaan Dharma Bhakti terhadap kepada Ibu Pratiwi.
Bukan sadja terbajang dihadapan mata chajal kita Pahlawan2 dari Sultan Agung Hanjokrokusumo, atau Pahlawan2 dari Untung Suropati, atau Pahlawan2 dari Trunodjojo, atau Pahlawan2 dari Sultan Hasanudin, atau Pah
lawan2 dari Trunodjojo, atau Pahlawan2 dari Sultan Hasanudin, atau
Pahlawan2 dari Pangeran Diponegoro, atau Pahlawan2 dari Teuku Tjiek Di-
tiro, atau Imam Bonjol, bukan hanya Pahlawan2 itu jang gugur dimedan
pertempuran atau tidak gugur dimedan pertempuran, tetapi djuga Pahlawan2
kita didalam Gerakan Nasional, jang mereka itu bernama dan kita beri
nama Pahlawan, olehkarena mereka telah mempersembahkan Dharma Bhakti-
nja serta kobanannja jang pahit-pedih diatas Persada Ibu Pratiwi.
kita daripada penderitaan, tetapi Pahlawan jang gugur, djuga sebelum adanja
physical revolution kita itu, Pahlawan jang gugur dalam abad ke-17, Pah-
lawan-pahlawan jang gugur dalam abad ke-18, Pahlawan2 jang gugur dalam
abad ke-19, Pahlawan jang jang gugur dalam apa jang kita namakan Gerakan
Nasional, dan bukan sadja Pahlawan2 jang gugur, tetapi kita pada ini hari
djuga memperingati semua Pahlawan2 daridjang telah menunjukkan kepahlawanan-
nja diatas padang pelaksanaan Dharma Bhakti terhadap kepada Ibu Pratiwi.
Bukan sadja terbajang dihadapan mata chajal kita Pahlawan2 dari Sultan Agung Hanjokrokusumo, atau Pahlawan2 dari Untung Suropati, atau Pahlawan2 dari Trunodjojo, atau Pahlawan2 dari Sultan Hasanudin, atau Pah
lawan2 dari Trunodjojo, atau Pahlawan2 dari Sultan Hasanudin, atau
Pahlawan2 dari Pangeran Diponegoro, atau Pahlawan2 dari Teuku Tjiek Di-
tiro, atau Imam Bonjol, bukan hanya Pahlawan2 itu jang gugur dimedan
pertempuran atau tidak gugur dimedan pertempuran, tetapi djuga Pahlawan2
kita didalam Gerakan Nasional, jang mereka itu bernama dan kita beri
nama Pahlawan, olehkarena mereka telah mempersembahkan Dharma Bhakti-
nja serta kobanannja jang pahit-pedih diatas Persada Ibu Pratiwi.
Terbajang
dimuka mata chajal kita, ratusan ribuan Pemimpin2 kita dari
pada Gerakan Nasional itu, jang telah meringkuk didalam pendjara. Ter-
bajang dihadapan mata chajal kita, Pemimpin2 kita jang menderita pahit
pedih, ditempat2 pembuangan. Terbajang dimata chayal kita, Pemimpin2
kita jang dengan muka bersenjum menaiki tiang penggantungan. Terbajang
dimata chayal kita, Pemimpin2 kita jang menadahi pelor daripada squadron2
pendrelan2. Terbajang dimuka chayall kita, deritaan daripada rakjat
kita jang untuk Perdjuangan itu mengorbankan segala2nja.
pada Gerakan Nasional itu, jang telah meringkuk didalam pendjara. Ter-
bajang dihadapan mata chajal kita, Pemimpin2 kita jang menderita pahit
pedih, ditempat2 pembuangan. Terbajang dimata chayal kita, Pemimpin2
kita jang dengan muka bersenjum menaiki tiang penggantungan. Terbajang
dimata chayal kita, Pemimpin2 kita jang menadahi pelor daripada squadron2
pendrelan2. Terbajang dimuka chayall kita, deritaan daripada rakjat
kita jang untuk Perdjuangan itu mengorbankan segala2nja.
Ada
jang mengorbankan suaminja, ada jang mengorbankan anaknja , ada
jang mengorbankan harta-bendanja, ada jang mengorbankan isi-hati ketjin-
taan mereka jang mendjadi tiang daripada djiwa mereka itu. Pendek kata
mengorbankan segala2nja, dan mereka ini Pahlawan pula. Oleh karena, seba-
gai tadi dikatakan oleh pedjabat Ketua M.P.R.S., mereka mendjalankan
segala sesuatu sepi-ing-pamrih. Pahlawan bukan hanja orang jang gugur
dimedan pertempuran. Pahlawan adalah semua orang jang berkorban, men-
derita untuk kepentingan sesama orang, tidak untuk kepentingan diri sendiri.
Dan djikalau kita menanjakan kenapa mereka itu mendjadi Pahlawan, kenapa
mereka itu berkorban, kenapa mereeka itu sukarela menderita, bahkan men-
derita dengan muka jang bersenjum, tak lain tak bukan ialah oleh karena
mereka itu sedar dan insjaf meng-emban Amanat Penderitaan Rakjat. Rakjat
Indonesia jang telah menjadi rakjat jang menderita ingin melepaskan diri-
nja daripada penderitaan itu, dan sebagai tadi saja katakan untuk melepaskan
dirinja daripada penderitaan itu, Rakjat Indonesia dan Pemimpin2nja, men-
djalankan dengan ichlas penderitaan2.
jang mengorbankan harta-bendanja, ada jang mengorbankan isi-hati ketjin-
taan mereka jang mendjadi tiang daripada djiwa mereka itu. Pendek kata
mengorbankan segala2nja, dan mereka ini Pahlawan pula. Oleh karena, seba-
gai tadi dikatakan oleh pedjabat Ketua M.P.R.S., mereka mendjalankan
segala sesuatu sepi-ing-pamrih. Pahlawan bukan hanja orang jang gugur
dimedan pertempuran. Pahlawan adalah semua orang jang berkorban, men-
derita untuk kepentingan sesama orang, tidak untuk kepentingan diri sendiri.
Dan djikalau kita menanjakan kenapa mereka itu mendjadi Pahlawan, kenapa
mereka itu berkorban, kenapa mereeka itu sukarela menderita, bahkan men-
derita dengan muka jang bersenjum, tak lain tak bukan ialah oleh karena
mereka itu sedar dan insjaf meng-emban Amanat Penderitaan Rakjat. Rakjat
Indonesia jang telah menjadi rakjat jang menderita ingin melepaskan diri-
nja daripada penderitaan itu, dan sebagai tadi saja katakan untuk melepaskan
dirinja daripada penderitaan itu, Rakjat Indonesia dan Pemimpin2nja, men-
djalankan dengan ichlas penderitaan2.
Oleh
karena itu, maka mereka patas kita beri nama Pahlawan dan mereka
pantas kita hormati, dan djiwa kita pada ssat sekarang ini memandjatkan
doa ke Hadirat Allah Subbanahu Wataala, agar supaja penderitaan mereka
itu, korbanan mereka itu diterima oleh Allah Subbanahu Wataala, dengan
Pahala jang setinggi2nja. Oleh karena itulah maka mereka bernama Pahla-
wan; Pa-ha-la-wan. Orang jang pantas menerima Pahala daripada Allah
4
pantas kita hormati, dan djiwa kita pada ssat sekarang ini memandjatkan
doa ke Hadirat Allah Subbanahu Wataala, agar supaja penderitaan mereka
itu, korbanan mereka itu diterima oleh Allah Subbanahu Wataala, dengan
Pahala jang setinggi2nja. Oleh karena itulah maka mereka bernama Pahla-
wan; Pa-ha-la-wan. Orang jang pantas menerima Pahala daripada Allah
4
Subhanahu Wataala. Dan kita jang duduk
disini, anggota2 daripada M.P.R.S.,
kita pantas menanja kepada diri kita sendiri: insjafkah kita djuga kepada
Amanat Penderitaan Rakjat itu? Insjafkah kita, bahwa Amanat Penderitaan
Rakjat itu bukan sadja diemban oleh Pahlawan2 jang telah gugur atau Pah-
lawan2 jang menderita didjamin jang lampau; insjafkah kita bahwa Amanat
Penderitaan Rakyat itu djuga harus diemban oleh kita semua jang pada ini
hari berkumpul didalam gedung jang bersedjarah ini, jang kita ini menurut
Undang2 dasar ’45, antara lain diwadjibkan untuk menentukan garis besar
daripada haluan Negara? Saja minta kepada semua anggauta M.P.R.S.,
pertama-tama dan lebih dahulu supaja semua anggauta M.P.R.S.
kita pantas menanja kepada diri kita sendiri: insjafkah kita djuga kepada
Amanat Penderitaan Rakjat itu? Insjafkah kita, bahwa Amanat Penderitaan
Rakjat itu bukan sadja diemban oleh Pahlawan2 jang telah gugur atau Pah-
lawan2 jang menderita didjamin jang lampau; insjafkah kita bahwa Amanat
Penderitaan Rakyat itu djuga harus diemban oleh kita semua jang pada ini
hari berkumpul didalam gedung jang bersedjarah ini, jang kita ini menurut
Undang2 dasar ’45, antara lain diwadjibkan untuk menentukan garis besar
daripada haluan Negara? Saja minta kepada semua anggauta M.P.R.S.,
pertama-tama dan lebih dahulu supaja semua anggauta M.P.R.S.
menyadari
sedalam-dalamnja, menginsjafi sedalam-dalamnja, bahwa kita ini masing2
dan kollektif meng-emban Amanat Penderitaan Rakjat.
dan kollektif meng-emban Amanat Penderitaan Rakjat.
Terbajanglah
Saudara2, dalam ingatan saja djdalannja perdjoeangan rakjat di-
masa jang lampau. Tadi dikatakan oleh pedjabat Ketua M.P.R.S., bahwa dengan
adanya M.PP.R.S. ini telah terpenuhi tuntutan daripada Undang2 Dasar 45
diatas lapangan perlembagaan ketata-negaraan. Memang Undang2 Dasar 45
menentukan harus adany\ja Madjelis Permusjawaratan Rakjat. Undang2 Dasar
45 adalah Undang2 Dasar daripada satu Negara. Undang2 Dasar 45 bukan
sekedar Undang2 Dasar daripada sesuatu perkumpulan, tetapi Undang2 Da-
sar daripada satu Negara. Dalam hal ini Saudara2, kenangkanlah djalannja
perdjoangan kita sampai kita datang kepada ber-Negara. Ja dulu sebelum
imperialisme datang disini, kita memiliki Negara-negara jang pada hake-
katnja tiada mempunjai penuh atribut2 lagi sebagai Negara --- oleh karena
atribut2-nja itu telah ditjabut oleh pihak pendjadjah.
masa jang lampau. Tadi dikatakan oleh pedjabat Ketua M.P.R.S., bahwa dengan
adanya M.PP.R.S. ini telah terpenuhi tuntutan daripada Undang2 Dasar 45
diatas lapangan perlembagaan ketata-negaraan. Memang Undang2 Dasar 45
menentukan harus adany\ja Madjelis Permusjawaratan Rakjat. Undang2 Dasar
45 adalah Undang2 Dasar daripada satu Negara. Undang2 Dasar 45 bukan
sekedar Undang2 Dasar daripada sesuatu perkumpulan, tetapi Undang2 Da-
sar daripada satu Negara. Dalam hal ini Saudara2, kenangkanlah djalannja
perdjoangan kita sampai kita datang kepada ber-Negara. Ja dulu sebelum
imperialisme datang disini, kita memiliki Negara-negara jang pada hake-
katnja tiada mempunjai penuh atribut2 lagi sebagai Negara --- oleh karena
atribut2-nja itu telah ditjabut oleh pihak pendjadjah.
Tetapi
penderitaan rakjat membuat kita tergerak mendjalankan penderita-
an2. Dalam abad 17,118,19 hingga pada achir --- pada permulaan abad ke-20,
kita sebagai tadi saja katakan mengindjak diatas padangnja Gerakan Nasional.
Timbulnja Serikat2 dan Perkumpulan2.
an2. Dalam abad 17,118,19 hingga pada achir --- pada permulaan abad ke-20,
kita sebagai tadi saja katakan mengindjak diatas padangnja Gerakan Nasional.
Timbulnja Serikat2 dan Perkumpulan2.
Tetapi
pada bagian jang pertama dari pada Serikat2 kita dan Perkumpulan2
kita itu, belum kita dengan tegas mengatakan bahwa perdjongan kita menu
dju kepada terbentuknja Negara.
kita itu, belum kita dengan tegas mengatakan bahwa perdjongan kita menu
dju kepada terbentuknja Negara.
Melainkan
hanja ditahan kira-kira ’26 tegas terpantjang didalam ingat-
an kita, bahwa kita tidak bisa terhindar melepaskan diri daripada penderitaan2
ini: penderitaan politik, penderitaan ekonomis, penderitaan sosial, kulturil dan
lain2 sebagainja, bahwa kita tidak dapat melepaskan diri daripada penderitaan2
ini, djikalau kita tidak mentjapai lebih dahulu: Indonesia Merdeka.
an kita, bahwa kita tidak bisa terhindar melepaskan diri daripada penderitaan2
ini: penderitaan politik, penderitaan ekonomis, penderitaan sosial, kulturil dan
lain2 sebagainja, bahwa kita tidak dapat melepaskan diri daripada penderitaan2
ini, djikalau kita tidak mentjapai lebih dahulu: Indonesia Merdeka.
Kemerdekaan politik, --- dulu
sebelum tahun 26, 27-an itu, berdjalanlah
pikiran salah didalam kalangan Bangsa Indonesia bahwa kita bisa melepas-
kan diri kita daripada penderitaan2 politik, sosial, kulturil itu,
dengan memperbaiki ketjerdasan kita, memperbaiki taraf ekonomi kita danlain2 sebagainja.
pikiran salah didalam kalangan Bangsa Indonesia bahwa kita bisa melepas-
kan diri kita daripada penderitaan2 politik, sosial, kulturil itu,
dengan memperbaiki ketjerdasan kita, memperbaiki taraf ekonomi kita danlain2 sebagainja.
Hal ini misalnja saja
uraikan dengan tegas dalam pidato saja sebelum
Proklamasi, jaitu pidao jang dikenal orang dengan nama Lahirnja Pantjasila.
Tetapi sjukur Alhamdulillah, Saudara2, baik sebagai akibat daripada djalan-
nja tjita2 dan kejakinan-kejakinan sendiri, maupun setjara empiris, kira2 pada
tahun 26, 27, datanglah suatu kejakinan baru, jaitu bahwa kita hanja bisa
mengachiri penderitaan2 kita ini, mentjapai Indonesia Merdeka.
Proklamasi, jaitu pidao jang dikenal orang dengan nama Lahirnja Pantjasila.
Tetapi sjukur Alhamdulillah, Saudara2, baik sebagai akibat daripada djalan-
nja tjita2 dan kejakinan-kejakinan sendiri, maupun setjara empiris, kira2 pada
tahun 26, 27, datanglah suatu kejakinan baru, jaitu bahwa kita hanja bisa
mengachiri penderitaan2 kita ini, mentjapai Indonesia Merdeka.
5
Dan
dengan terlahirnja kejakinan ini Saudara2, mulai bulatlah ke-
jakinan kita, bahwa kita lebih dahulu harus mendirikan Negara Indo-
nesia. Sebelum taahuun 26, 27 hal negara ini belum bersemajam didalam
ingatan dan pikiran kita. Tetapi sedjak tahun 26, 27, dengan tegas
mendjulanglah ke langit kejakinan ini. Lebih dahulu dirikan Negara
Indonesia --- didalam dan olah Negara Indonesia itu kita akan berusaha
mengachiri penderitaan2 kita. Mengachiri penderitaan politik, meng-
achiri penderitaan ekonomis, mengachiri penderitaan kulturil, meng-
achiri penderitaan sosial, mengachiri penderitaan2 lain.
jakinan kita, bahwa kita lebih dahulu harus mendirikan Negara Indo-
nesia. Sebelum taahuun 26, 27 hal negara ini belum bersemajam didalam
ingatan dan pikiran kita. Tetapi sedjak tahun 26, 27, dengan tegas
mendjulanglah ke langit kejakinan ini. Lebih dahulu dirikan Negara
Indonesia --- didalam dan olah Negara Indonesia itu kita akan berusaha
mengachiri penderitaan2 kita. Mengachiri penderitaan politik, meng-
achiri penderitaan ekonomis, mengachiri penderitaan kulturil, meng-
achiri penderitaan sosial, mengachiri penderitaan2 lain.
Dan kejakinan 26-27 ini, ini memberi impetus pula kepada
usaha
kita kepada penderitaan kita, kepada kesediaan dan keridoan kita
untuk menderita, kepada keikhlasan kita untuk menderita, --- sehing-
ga apa yang dinamakan Gerakan Nasional makin lama makin meng-
gema, makin lama makin menggempa dan kita achirnja pada tanggal
17 Agustus 1945 menjatakan bahwa kita telah mendirikan Negara Jang
kita namakan Republik Indonesia. Tatakala Pemimpin2 kita telah me-
lihat fadjar menjingsing dilangit Timur, bahwa Kejakinan mutlak
perlunja Negara ini telah mendekat mendjadi realiteit, jaitu diwaktu
jang kita kenal dengan nama waktu zaman Djepang , djadi sebelum
Proklamasi, djaman Djepang itu Saudara2, Pemimpin2 kita jang
meng-emban Amanat Pendeitaan Rakjat itu, diwaktu djaman Djepang
itu telah, bukan sadja mendjongsong fadjar jang akan menjingsing
akan datangnja Negara Indonesia dengan kegembiraan hati, tetapi
menjongsongnja pula dengan usaha mempersiapkan datangnja Negara
jang merdeka itu.
kita kepada penderitaan kita, kepada kesediaan dan keridoan kita
untuk menderita, kepada keikhlasan kita untuk menderita, --- sehing-
ga apa yang dinamakan Gerakan Nasional makin lama makin meng-
gema, makin lama makin menggempa dan kita achirnja pada tanggal
17 Agustus 1945 menjatakan bahwa kita telah mendirikan Negara Jang
kita namakan Republik Indonesia. Tatakala Pemimpin2 kita telah me-
lihat fadjar menjingsing dilangit Timur, bahwa Kejakinan mutlak
perlunja Negara ini telah mendekat mendjadi realiteit, jaitu diwaktu
jang kita kenal dengan nama waktu zaman Djepang , djadi sebelum
Proklamasi, djaman Djepang itu Saudara2, Pemimpin2 kita jang
meng-emban Amanat Pendeitaan Rakjat itu, diwaktu djaman Djepang
itu telah, bukan sadja mendjongsong fadjar jang akan menjingsing
akan datangnja Negara Indonesia dengan kegembiraan hati, tetapi
menjongsongnja pula dengan usaha mempersiapkan datangnja Negara
jang merdeka itu.
Antara
lain dipersiapkan dasar2 Negara jang akan datang, Jaitu
jang kemudian terkenal dengan Pantjasila. Disini tempatnja saja de-
ngan tegas mengulangi lagi buat kali seribunja, bahwa Kemerdekaan
kita bukan hadiah dari Djepang, bahwa Kemerdekaan kita adalah ha-
sil daripada pperdjoangan Rakjat Indonesia jang berrpuluh2 tahun, ---
didalam kita mendjalankan usaha dan perdjuangan
untuk membuat kejakinan Negara itu satelit realiteit, dalam kita mendjalankan usaha
itu kita telah mempersiapkan sendiri hal2 jang mutlak perlu untuk
negara jang merdeka.
jang kemudian terkenal dengan Pantjasila. Disini tempatnja saja de-
ngan tegas mengulangi lagi buat kali seribunja, bahwa Kemerdekaan
kita bukan hadiah dari Djepang, bahwa Kemerdekaan kita adalah ha-
sil daripada pperdjoangan Rakjat Indonesia jang berrpuluh2 tahun, ---
didalam kita mendjalankan usaha dan perdjuangan
untuk membuat kejakinan Negara itu satelit realiteit, dalam kita mendjalankan usaha
itu kita telah mempersiapkan sendiri hal2 jang mutlak perlu untuk
negara jang merdeka.
Antara
lain, untuk Negara Indonesia jang Merdeka dianggap perlu
adanja dasar, jaitu jang sekarang terkenal dengan Pantjasila. Dan
pemimpin2 kita djuga mempersiapkan Undang2 Dasarnja. Dikatakan
orang bahwa kita mempersiapkan Undang2 Dasar Republik Indonesia
itu dibawah todongan bajonet. Memang benar demikian, Saudara2.
Dibawah todongan bajonet, dari pada tentara pendudukan.
adanja dasar, jaitu jang sekarang terkenal dengan Pantjasila. Dan
pemimpin2 kita djuga mempersiapkan Undang2 Dasarnja. Dikatakan
orang bahwa kita mempersiapkan Undang2 Dasar Republik Indonesia
itu dibawah todongan bajonet. Memang benar demikian, Saudara2.
Dibawah todongan bajonet, dari pada tentara pendudukan.
Pemimpin2 kita jang sedar meng-emban
Amanat Penderitaan Rakjat
itu, mempersiapkan Undang Dasar Repubki Indonesia. Dan Undang2
Dasar ini jang kkemudian disjahkan oleh Pemimpin2 kita, satu hari se-
telah Proklamasi.
itu, mempersiapkan Undang Dasar Repubki Indonesia. Dan Undang2
Dasar ini jang kkemudian disjahkan oleh Pemimpin2 kita, satu hari se-
telah Proklamasi.
Pada
tanggal 18 Agustus 1945, jang sekarang sudah
kondang termasjhur dangan nama Undang2 Dasar 45, jang sedjurus waktu kita tinggalkan, kemu-
dian --- tetapi jang pada tanggal 5 Djuli 1959 didekritkan oleh Presiden
bahwa kita kembali lagi kepada Undang2 Dasar 1945.
kondang termasjhur dangan nama Undang2 Dasar 45, jang sedjurus waktu kita tinggalkan, kemu-
dian --- tetapi jang pada tanggal 5 Djuli 1959 didekritkan oleh Presiden
bahwa kita kembali lagi kepada Undang2 Dasar 1945.
Djikalau
Saudara2 membatja Undang2 Dasar 45 itu, njata djelas bahwa
semangat daripada Undang2 Dasar 45 ini ialah apa jang diamanatkan oleh
Rakjat didalam ia punja penderitaan jang berwindu-windu, berabad-abad.
Maka oleh karena itu ada baiknja barangkalil saja batjakan lebih dahulu
Preambule daripada Undang2 Dasar itu: ,,Bahwa sesunggunja Kemerdekaan
itu ialah hak segala Bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan diatas
dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan
peri keadilan. Dan perdjoangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah
sampailah kepada saat jang bahagia dengan selamat-sentausa menghan-
tarkan Rakjat Indonseia kedepan pintu gerbang Kemerdekaan Negara Indone-
sia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.Atas berkat Rahmat
Tuhan Jang Maha Kuasa, dan didorongkan oleh keinginan luhur
supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas --- maka Rakjat Indonesia me-
nnjatakan dengan ini Kemerdekaannja.
semangat daripada Undang2 Dasar 45 ini ialah apa jang diamanatkan oleh
Rakjat didalam ia punja penderitaan jang berwindu-windu, berabad-abad.
Maka oleh karena itu ada baiknja barangkalil saja batjakan lebih dahulu
Preambule daripada Undang2 Dasar itu: ,,Bahwa sesunggunja Kemerdekaan
itu ialah hak segala Bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan diatas
dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan
peri keadilan. Dan perdjoangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah
sampailah kepada saat jang bahagia dengan selamat-sentausa menghan-
tarkan Rakjat Indonseia kedepan pintu gerbang Kemerdekaan Negara Indone-
sia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.Atas berkat Rahmat
Tuhan Jang Maha Kuasa, dan didorongkan oleh keinginan luhur
supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas --- maka Rakjat Indonesia me-
nnjatakan dengan ini Kemerdekaannja.
Kemudian
daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indo-
nesia, jang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah
Indonsia, dan untuk memadjukan kesejahteraan umum, mentjerdaskan ke-
hidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan
Kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Ke-
merdekaan Indonesia itu dalam Undang2 Dasar Negara
Indonesia jang terbentuk dalam susunan negara Republik Indonesia
jang berkedaulatan Rakjat, dengan berdasarkan kepada ke-Tuhanan jang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan
Kerakjatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusjawaratan
Perwakilan serta dengan mewudjudkan satu Keadilan Sosial bagi seluruh
rakjat Indonesia”.
nesia, jang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah
Indonsia, dan untuk memadjukan kesejahteraan umum, mentjerdaskan ke-
hidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan
Kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Ke-
merdekaan Indonesia itu dalam Undang2 Dasar Negara
Indonesia jang terbentuk dalam susunan negara Republik Indonesia
jang berkedaulatan Rakjat, dengan berdasarkan kepada ke-Tuhanan jang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan
Kerakjatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusjawaratan
Perwakilan serta dengan mewudjudkan satu Keadilan Sosial bagi seluruh
rakjat Indonesia”.
Preambule
ini Saudara2, saja ulangi lagi, mentjerminkan dengan tegas dan
djelas: Amanat Pendeitaan Rakjat. Tjerminkan dengan djelas didalam
kata-pembukaan ini, tiga kerangka sebagai jang saja utjapkan dalam pidato
saja 17 Agustus 1959, jang kemudian terkenal dengan kata pidato Manipol.
djelas: Amanat Pendeitaan Rakjat. Tjerminkan dengan djelas didalam
kata-pembukaan ini, tiga kerangka sebagai jang saja utjapkan dalam pidato
saja 17 Agustus 1959, jang kemudian terkenal dengan kata pidato Manipol.
Tiga
kerangka, satu Negara Kesatuan, didalamnja satu masjarakat jang
adil dan makmur, didalam rangkaian persahabatan dengan semua Bangsa
didunia. Preambule ini Saudara2, dibuat dan dirantjangkan, kemudian di
sjahkan oleh Pemimpin2 kita sebelum kita mengadakan Proklamasi 17 Agustus
1945. Apa sebab, kataku tadi, oleh karena Pemimpin2 kita pada waktu itu
semuanja merasa meng-emban Amanat Penderitaan Rakjat sehingga didalam
Preambule ini ditjerminkan olehnja apa yang diamanatkan oleh rakjat dengan
deritaanja itu, kepada kita semua. Tiga kerangka ternjata tertulis didalam
nja. Dan bukan saja tiga kerangka ini, sebagai Saudara2 pun telah mengetahui,
didalam Preambule ini telah tertjermin pula Dasar daripada Negara jang
akan datang, dan jang kemudian datang, jaitu jang terkenal dengan nama
Pantjasila.
adil dan makmur, didalam rangkaian persahabatan dengan semua Bangsa
didunia. Preambule ini Saudara2, dibuat dan dirantjangkan, kemudian di
sjahkan oleh Pemimpin2 kita sebelum kita mengadakan Proklamasi 17 Agustus
1945. Apa sebab, kataku tadi, oleh karena Pemimpin2 kita pada waktu itu
semuanja merasa meng-emban Amanat Penderitaan Rakjat sehingga didalam
Preambule ini ditjerminkan olehnja apa yang diamanatkan oleh rakjat dengan
deritaanja itu, kepada kita semua. Tiga kerangka ternjata tertulis didalam
nja. Dan bukan saja tiga kerangka ini, sebagai Saudara2 pun telah mengetahui,
didalam Preambule ini telah tertjermin pula Dasar daripada Negara jang
akan datang, dan jang kemudian datang, jaitu jang terkenal dengan nama
Pantjasila.
7

Tidak ada komentar:
Posting Komentar