SEJARAH SUKU BESEMAH
Tanah
Besemah merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Bukit Barisan
mengelilingi Gunung Dempo, beriklim tropis, berudara sejuk, dikenal
sebagai salah satu daerah penghasil kopi, teh, dan sayur mayur. Penduduk
tanah besemah termasuk rumpun suku Melayu Tengah, sejak dahulu sudah
dikenal mempunyai peradaban dan nilai-nilai budaya tinggi. Hal ini
dibuktikan banyaknya peninggalan Prasejarah dalam bentuk arca, menhir
serta tulisan yang belum dapat dibaca, seni tutur dalam bentuk guritan,
tadut, rejung dan lain-lain; permainan alat musik tradisional berupa
ginggung dan lain-lain. Dalam sistem kekerabatan secara umum masyarakat
Besemah menganut sistem patrilineal, artinya menganut garis keturunan
laki-laki, maka timbul istilah meraje untuk garis keturunan dari
laki-laki dan anak belay untuk garis keturunan dari perempuan. Sesuai
dengan perjalanan waktu sistem kekerabatan dari patrilineal juga
mengalami perkembangan ke arah bilateral melalui alter nerend. Demikian
pula masyarakat yang tadinya bersifak komunal yang didasarkan pada
ikatan keturunan teritorial, genelogis, telah terkontaminasi oleh
pengaruh peradaban dunia Barat yang dikenal dengan faham materialistis
dan individualistis, sehingga seolah-olah masyarakat Tanah Besemah sudah
tercabut dari nilai-nilai dasar persamaan garis keturunan, persamaan
tanah leluhur, rasa dan tanggung jawab terhadap kelompok, ikatan
kekerabatan dan nilai kegotong-royongan. Sementara itu di beberapa tribe
atau suku, ikatan kekeluargaan atau tali persaudaraan tetap
dipertahankan, bahkan ada kecenderungan menguat. Sebut saja misalnya
Kerukunan Keluarga Minang, Keluarga Sulawesi selatan, Keluarga Batak,
Etnis Keturunan Tionghoa. Bila kita amati suku atau ikatan keluarga yang
tetap memepertahankan dan emmelihara sistem kekerabatan, dalam berbagai
aspek relatif lebih maju bila dibandingkan dengan suku yang tidak lagi
mempertahankan sistem kekerabatan, baik dibidang sosial budaya, ekonomi,
dan politik. Sesungguhnya suku atau keluarga Besemah patut berbangga
karena Tanah Besemah telah banyak melahirkan putera-uteri terbaik
bangsa, baik ditingkat regional, nasional naupun internasional dengan
beraneka ragam profesi. Basema suatu terminology lebih dikenal dekat
dengan satu bentuk kebudayaan dan suku yang berada disekitar Gunung
Dempo dan Pegunungan Gumay. Wialayah ini dikenal sebagai Rena Basema.
Sedangkan untuk terminology politik dan pemerintahan, dipergunakan
nomenklatur Pasemah. Pada masa kolonial oleh Inggris dan Belanda
menyebutnya Pasemah, bahkan sampai sekarang Pemerintahan Republik
Indonesia masih menyebutnya Pasemah. Kebudayaan suatu suku atau bangsa
sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan alam, dimana mereka hidup dan
berkehidupan. Kebudayaan itu adalah bagaimana manusianya mengantisipasi
dan bereaksi akan alam lingkungannya. Orang yang hidup dipegunungan
tentu akan lain sekali orang hidup dataran dan dipinggir pantai.
Siapakah orang Basema ?Bangsa atau suku bangsa yang ada didunia
mempunyai isi kebudayaan yang terdiri dari 7 unsur: apakah kebudayaan
itu sederhana, terisolasi, maju, besar maupun kompleks, menurut para
ahli antropologi terdiri dari unsur-unsur, yaitu
engan mengetahui bentuk dan isi kebudayaan Basema maka kita dapat
mengetahui apa dan siapa jemeu Basema. Pasemah Sindang Merdika. Hubungan
antara Basema dengan Kesultanan Palembang adalah 6: “Orang Pasemah
Lebar mempunyai catatan tradisional bahwa asal usul mereka adalah
keturunan dari Jawa. Pada saat kejayaan Majapahit, dua saudara yaitu
seorang laki-laki dan seorang perempuan, dengan beberapa orang
pengikutnya, meninggalkan kerajaan tersebut dan mendarat di pantai timur
Sumatera. Saudara perempuannya menetap di Palembang dan dalam waktu
singkat menjadi seorang penguasa; sebaliknya saudara laki-laki berjalan
terus kearah pedalaman, sampailah di lembah subur Pasemah. Dari sinilah
tempat ini pertama kali dikendalikan dan berpenduduk; dan semenjak itu
menjadi tanah asal suku yang ada sekarang.” Pernyataan diatas citra
hubungan psikologis, social, geopolitik antara Kesultanan Palembang dan
Pasemah sehingga berhak menyandang bentuk wilayahnya sebagai sindang.
Dengan kedudukan wilayahnya sebagai wilayah sindang, maka jelaslah orang
Basema mendapat tugas khusus dan tempat khusus didalam struktur
Kesultanan Basema mendapat tugas khusus dan tempat khusus didalam
struktur Kesultanan Palembang. Itulah sebabnya sindang ini disebut Besemah Sindang Merdika. Dapunta Hiyang adalah orang Besemah.
Sebetulnya
hubungan antara Besemah dan Palembang jauh sebelum kelahiran Kesultanan
Palembang Darussalam telah terjalin. John N. Miskic 7 ; kehidupan
perekonomian dan kebudayaan Pasemah pada sekitar abad ke-7 seperti
berikut :”Pasemah probably formed a prehistoric of cultural development
which supplied a necessary precondition enabling a sophiscated political
and economic centre of sriwijaya to development at Palembang, to which
Pasemah is linked by river.” Sedangkan Peter Bellwood 8 melihat, dari
segi pentrikhan pahatan-pahatan itu adalah bentuk nekara tipe Heger I
yang dipahatnya pada relief Batugajah, Airputih, dilukis juga pada
dinding ruang kubur Kotaraya Lembak dan mungkin juga diukir pada batuan
alami yang terbuka dekat Tegurwangi. Bukti-bukti ini dapat menyarankan
tarikh awal atau pertengahan milinium Masehi, meskipun mungkin ada yang
bertumpang tindih kurun waktunya dengan masa kerajaan Sriwijaya (sesudah
tahun 670 M). Atas bukti-bukti dan saran serta pemikiran para pakar
arkeologi dan sejarah, sebetulnya sudah dapat disimpulkan, bahwa peran
Jagat Basemah terhadap kerajaan Sriwijaya sangat besar, jika tidak
dikatakan menentukan. Oleh karena itu saya berasumsi, kalau Dapunta
Hiyang Srijayanaga, raja Sriwijaya yang bergelar sebagai Raja Gunung
adalah jemeu dari Gunung Dempo. Asumsi ini telah saya sampaikan pada
Seminar Internasional pada ulang tahun ke 25 Tahun Kerjasama Pusat
Penelitian Arkeologi dan Ecole francaise d’Extreme-Orient tahun 2001.
Asumsi ini tidak ada yang menolak, sebaliknya belum ada yang mendukung.
Jagat Besema bumi perjuangan. Jemeu Besema adalah orang-orang pemberani,
diakui oleh penulis kolonial. Berwatak setia kawan, dan loyal terhadap
komitmen yang membuat saudara ataupun teman seperjuangan Sultan
Palembang, meneruskan perjuang setelah Sultan Mahmud Badaruddin II
dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1821. Orang-orang Sindang Merdika di
Pasemah menolak tindakan Belanda tersebut. Mereka meneruskan perjuangan
di Pasemah pada tahun 1821 sampai 1866. Bahkan pada saat-saat
pertempuran melawan Belanda di Palembang 1821, orang-orang Besemah sekali
lagi bersumpah setia dengan Sultan Palembang di Bukit Seguntang.
Pemberontakan yang diadakan oleh rakyat Besemah ini juga disebabkan
dengan sikap Belanda yang tidak dapat mengerti dengan bentuk dan
karakter tradisional, dan tentunya kurang pendekatan budaya. Pandangan
yang picik terhadap orang Besemah seperti yang telah disampaikan
terdahulu: orang Besemah tak akan dapat diajak bicara jika tidak diberi
unjuk kekuatan militer, inilah sikap kolonial yang sangat fatal. Atas
sikap ini pula menjadi jelas, ketika meletusnya rentetan pemberontakan
yang berkepanjangan dari kelompok suku-suku didaerah Sindang, misalnya
serangan orang Besemah ke kota Palembang (1829), Lahat(1829), Musi
Ulu)1837), Rejang(1840), Ampat Lawang(1840-1850) dan beberapa jenis
pemberontakan kecil, serupa umunya dari daerah Sindang, bahwa kekuasaan mereka didaerah Sindang tidak terima begitu saja. Wilayah
Besemah dapat diduduki Belanda pada penghujung tahun 1866. Semangat
pejuang Besemah ini terus menyala sehingga menjelang revolusi
kemerdekaan. Jepang mendidik para calon perwira yang nantinya melahirkan
para perwira di Pagar Alam. Disekolah Ghuyung ini Jepang hanya melatih
fisik kemiliteran, akan tetapi semangat kejuangan dihembuskan oleh
semangat Besemah. Tidak mengherankan kalau dari Pagar Alam ini lahir para
perwira yang berkiprah ditingkat nasional Di alam Revolusi Fisik sekali
lagi Jagat Besema menjadi tempat perlindungan pemerintahan sipil
Republik Indonesia dalam hal ini Keresidenan Palembang. Demikian pula
penempatan-penempatan kesatuan TNI, seperti Brigade Garuda Dempo, Sub
Teritorium Palembang (STP). Wajar saja jika Pemrintahan Kota Pagar Alam
mengklaim sebagai : Bumi Perjuangan sebagai mottonya. Daerah Besemah
terletak dikaki Bukit Barisan. Daerahnya meluas dari lereng-lereng
Gunung Dempo ke selatan sampai ke Ulu Sungai Ogan (Kisam), ke Barat
sampai ke Ulu Alas (Besemah Ulu Alas), ke Utara sampai ke Ulu Musi
Besemah (Ayik Keghuh), dan ke daerah timur sampai Bukit Pancing. Pada
Masa Lampik Empat Merdike Due daerah Besemah sudah dibagi atas :
Besemah Libagh,
Besemah Ulu Lintang,
Besemah Ulu Manak, dan
Besemah Ayik Keghuh.
Meskipun nama-namanya berbeda, namun penduduknya mempunyai hubungan atau ikatan kekerabatan yang kuat (genealogis).
Besemah Libagh,
Besemah Ulu Lintang,
Besemah Ulu Manak, dan
Besemah Ayik Keghuh.
Meskipun nama-namanya berbeda, namun penduduknya mempunyai hubungan atau ikatan kekerabatan yang kuat (genealogis).
Daerah
Besemah merupakan dataran tinggi dan pegunungan yang bergelombang.
Ketinggian wilayah sangat bervariasi, dari ketinggian sekita 441 meter
dpl (diatas permukaan laut) sampai dengan 3.000-an meter lebih dpl.
Daerah dataran tinggi 441 meter sampai dengan 1.000 meter dpl, sedangkan
daerah berbukit dan bergunung (bagian pegunungan) berada pada
ketinggian diatas 1.000 meter hingga 3.000 meter lebih dpl titik
tertinggi adalah 3.173 meter dpl, yaitu puncak Gunung Dempo, yang
sekaligus merupakan Gunung tertinggi di Sumatera Selatan. Daerah Gunung
Dempo dengan lereng-lerenganya pada sisi timur dan tenggara mencakup
58.19% dari luas wilayah kota Pagar Alam sekarang yang 633,66 hektar.
Bukit dan Gunung yang terpenting diwilayah kota Pagar Alam antara lain
adalah Gunung Dempo (3.173 meter), Gunung Patah (2.817 meter), Bukit
Raje Mendare, Bukit Candi, Bukit Mabung Beras, Bukit Tungku Tige (Tungku
Tiga), dan Bukit Lentur. Bagian wilayah kota yang merupakan dataran
tinggi, terutama bagian timur, umunya disebut “ Tengah Padang “. Daerah
pusat kota Pagar Alam yang meliputi kecamatan Pagar Alam Utara dan
kecamatan Pagar Alam Selatan atau wilayah bekas Marga Sumbai Besak Suku
Alun Due terletak pada ketinggian rata-rata 600 sampai 3.173 meter dpl.
Daerah Besemah dialiri sejumlah sungai. Satu diantaranya adalah sungai
Besemah ( Ayiek Semah ) . Pada zaman dahulu, keadaan alamnya sangat sulit
dilewati, menyebakan daerah ini jarang didatangi oleh Sultan Palembang
atau wakil-wakilnya (raban dan jenag). Kondisi alam yang cukup berat ini
menyebabkan sulitnya pasukkan Belanda melakukan ekspedisi-ekspedisi
meliter untuk memadamkan gerakan perlawanan orang Besemah. Mengenai
keadaan alam Besemah pada permulaan abad ke sembilan belas, menurut
pendatang Belanda dari karangan Van Rees tahun 1870 melukiskan.
Sampai
dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit
didatangi disebelah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan
kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya
terdiri dari beberapa suku saja, mereka menamakan dirinya rakyat bebas
merdeka. Dari Barat Daya sulit ditembus oleh orang-orang Bengkulu, dari
tiga sudut lain di pagari oleh Gunung-gunung yang menjulang tinggi dan
ditutupi oleh hutan yang lebat dan luas di daerah pedalaman Palembang.
ASAL MUASAL JEME BESEMAH
Sampai
sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah.
Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang
berlaku juga bagi suku besemah, masih diliputi kabut rahasia. Namun yang
jelas, jauh berabad-abad sebelum hadirnya mitos Atung Bungsu, ditanah
Besemah, dilereng Guning Dempo dan dareh sekitarnya, telah ada
masyarakat yang memiliki kebudayaan tradisi megalitik dan bukti-bukti
budaya megalitik ditanah besemah sampai sekarang masih ada.
Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah sekarang ini adalah keturunan dari pendukung budaya megalitik tersebut ?
Menurut Ahad, jurai tue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasai bahwa sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah sekitar Gunung Dempo, telah datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa yang tidak di ketahui asalnya.
Suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jemeu Kam-kam, jemeu Nik, jemeu Nuk, jemeu Ducung, jemeu Aking, jemeu Rebakau, jemeu Sebakas, jemeu Rejang dan jemeu Berige. Pada masa tanah disekitar Gunung Dempo di duduki oleh jemeu Rejang dan jemeu Berige, datanglah Atung Bungsu. Dari cerita orang-orang tua (jemeu-jemeu tue), secara fisik jemeu Nik dan jemeu Nuk memiliki badan yang tinggi besar hidung mancung dan kulit putih kemerahan. Jemeu Ducung perawakan tubuhnya kecil, pendek, tetapi memiliki kelincahan. Jemeu Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jemeu Rebakau, berperawakan sedang, dan Jemeu Sebakas, memiliki postur tubuhnya seperti kebanyakan orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jemeu Rejang dan jemeu Berige tidak jauh berbeda dengan jemeu Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang Besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominan berasal dari puyang Atung Bungsu. Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah didiami oleh suku Rejang dan Berige. Ia sempat berdialog dengan salah seorang pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu Rambut Selake dari Lubuk Umbai yang masing-masing merasa berhak atas tanah Besemah. Melalui sumpah, akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang paling berhak adalah Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut “ jikalu bulak, jikalu buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku”. Sedangkan M. Zoem Derahap, yang dijuluki pak Gasak, dusun Negeri Kaye, Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang di pimpin Ratu Rambut Selake setelah mengakui tanah Besemah milk Atung Bungsu mereka lalu diberi kedudukan sebagai sumbai dalam Jagad Besemah, tetapi tidak masuk dalam sistem pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay. Sebagian masyarakat Besemah percaya bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang ( Puyang Serunting Sakti ) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal dibukit siguntang, lalu pergi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya menetap disuatu tempat yang disebut Padang Langgar ( Pelangkeniday ). Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay yaitu puyang Panjang sebagai juray kebalik-an baru menetap dibagian ilir tanah Besemah yaitu di Balay Buntar ( Lubuk Sepang ).
Ratu Majapahit beranak 7 (tujuh) orang: 1. Puyang Meradjo Saktie, 2. Puyang Meradjo Gantie, 3. Puyang Meradjo Pandoe, 4. Puyang Meradjo Gandoe, 5. Puyang Meradjo Kedam, 6. Puyang Poetri Sandang Bidoek, 7. Puyang Atoeng Bongsoe. Maka Ratu Sinuhun memberi tahu pada anak laki-lakinya bahwa Poetri Sandang Bidoek akan diambil anak [Dikawinkan] dengan Bagus Karang di negeri Raban, serta akan dijadikan raja di Mojopahit (Majapahit). Anak laki-lakinya kecewa sebab mengapa mereka yang laki-laki tidak dijadikan raja Mojopahit. Ada permintaan dari Atoeng Bongsoe kepada Bagus Karang, kalau jadi raja di Mojopahit yaitu minta ayam Papak Berambai Mas, memakai jalu intan sekilan. Permintaan dikabulkan oleh Bagus Karang. Ratu Sinuhun menyuruh ke-enam anak laki-lakinya berkarang mencari ikan. Maka Atoeng Bongsoe berkarang digenting ulu Mana’ di Batanghari Cawang sampai habis ikannya. Ikan dimasukkannya dalam buloh [Buluh=Bambu] Ritie Jadie. Sampai sekarang Batanghari itu bernama Cawang Buloh Ritie dan tidak lagi ditunggu ikan. Ketika Atoeng Bongsoe jalan dari [melalui] tanah Besemah yang pada waktu itu bernama Rimbo Dalam. Pada wktu itu belum ada seorang pun yang tinggal didaerah ini, turun dari bukit Serelo lantas pulang ke Mojopahit. Sampai di Mojopahit saudara puterinya sandang Bidoek telah dikawinkan. Atoeng Bongsoe kecewa, mengapa tidak menunggu dia pulang dari berkarang. Anak-anak Ratu Sinuhun kecewa, mereka lalu pergi kebeberapa tempat, antara lain ke Loera Belido, ke Minangkabau, ke Bugis, ke Aji Komering dan ke Bugis. Atoeng Bongsoe kawin dengan anak ratu Benua Keling Senantan Boewih (Boeway). Atoeng Bongsoe mendapat 2 (dua) anak laki-laki, yaitu: 1. Boejang Djawo (Bujang Jawe), 2. Rio Rakian. Pada suatu ketika Boejang Djawo memecahkan piring Ratu Benua Keling. Anak laki-laki Ratu Benua Keling marah kepada Boejang Bongsoe dan ia berkata bahwa ia mau pulang. Ratu Benua Keling membagi pusaka (warisan). Atoeng Bongsoe mendapat warisan tanah bumi. Ia mengambil tanah sekepal dan setitik air dan satu biji batu dimasukkan di dalam tongkat. Bagian Puyang Atoeng Bongsoe Pati(h) Ampat Lawangan Ampat Pepandin Delapan. Maka Atoeng Bongsoe berjalan nunggangi (naik) kelapa balik mudik sungai sampai di Palembang. Ketemu dengan Putri Sandang Bidoek. Maka Pati Ampat Lawangan Sandang Bidoek di Palembang. Sandang Bidoek memberi satu Bendik bernama Si Awang-Awang. Kata Sandang Didoek “Bilamana Atoeng Bongsoe sudah mendapat kepastian dimana akan bertempat tinggal pukul bendik Si Awang-awang sampai kedengaran dari Palembang”. Maka Atoeng Bongsoe meninggalkan satu meriam bernama Segoering. Kata Atoeng Bongsoe “Kalau ada musuh dari luaran, tembakkan meriam Segoering, supaya segala anak cucunya membantu perang”. Sesudah itu Atoeng Bongsoe mudik sampai muara Lematang, maka air musi ditimbang dengan air Lematang [Ternyata setelah ditimbang lebih berat ayiek lematang], Atoeng Bongsoe [memutuskan] akan mudik Batanghari Lematang. Ketika Boejang Djawe akan mati, dia meninggalkan pesan sama Atoeng Bongsoe, dimana tempat Atoeng Bongsoe menjadikan jagad minta pasangkan asap kemenyan sembilan dan minta dipasangkan kelmbu tujuh lapis, maka Boejang Djawe kembali hidup. Sesudah itu Atoeng Bongsoe naik ke darat berhenti didalam rimba. Rimba ini dinamakannya Padoeraksa [artinya daerah yang baru diperiksa]. Ketika Atoeng berada dalam rimba ini datanglah ratu dari dusun Lubuk Oembay bernama Ratu Rambut Selake [Pimpinan orang Rejang]. Berkatalah ratu Rambut Selake: Apa sebab Atoeng Bongsoe menempati tanahnya ? Dijawab oleh Atoeng Bongsoe, “ Tanah ini tanahku nian, sebab waktu pulang berkarang di Genting Oeloe, mendapat ini tanah dan belum ada satu orangpun yang menunggunya [menempati]”. Dijawab lagi oleh ratu Rambut Selake, “Beghani sumpah, kalau beghani sumpah, ambiklah!”. Maka tanah ini dikasihkan kepada Atoeng Bongsoe. Sesudah itu Rambut Selaku mati, anak cucunya pindah ke Rejang. Setelah itu Atoeng Bongsoe pindah dari rimba Padoekrakso dan kemudian membuat dusun Benua Keling. Suatu ketika istrinya Atong Bongsoe, putri senantan Boewih turun membasuh beras memakai bakul, dimasuki ikan Semah, Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Besemah [yang berarti sungai yang banyak ikan semahnya]. Sesudah itu Atoeng Bongsoe, sesuai dengan pesan Bujang Djawe, ia membakar kemenyan dan memasang kelambu tujuh lapis pada waktu malam 14 maka bujang Djawe turun bergelar Puyang Dewate, dialah yang menjadikan Jagad Besemah, sampai 5 (lima) gilir tidak diperanakkan. Setelah puyang Dewate mati, berturut-turut terdapat puyang: 1. Indiro (Indra) sakti, 2. Indira Muksa, 3. Telage Muksa, 4. Cendane Kilam, dan 5. mandoelike. Puyang Mandoelike beranak 5 ( lima) orang, yaitu: 1. Puyang Sake Semanung (Seminung), menjadikan anak [Sumbai] Ulu Lurah, 2. Puyang Sake Sepadi menjadikan sumbai Tanjung Ghaye, 3. Puyang Seghatus, menjadikan anak Bayoeran, 4. Puyang Sake Saktie menjadikan marga Jati, 5. Puyang Seribu, mati bujang, tidak ada keturunan.
Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah sekarang ini adalah keturunan dari pendukung budaya megalitik tersebut ?
Menurut Ahad, jurai tue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasai bahwa sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah sekitar Gunung Dempo, telah datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa yang tidak di ketahui asalnya.
Suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jemeu Kam-kam, jemeu Nik, jemeu Nuk, jemeu Ducung, jemeu Aking, jemeu Rebakau, jemeu Sebakas, jemeu Rejang dan jemeu Berige. Pada masa tanah disekitar Gunung Dempo di duduki oleh jemeu Rejang dan jemeu Berige, datanglah Atung Bungsu. Dari cerita orang-orang tua (jemeu-jemeu tue), secara fisik jemeu Nik dan jemeu Nuk memiliki badan yang tinggi besar hidung mancung dan kulit putih kemerahan. Jemeu Ducung perawakan tubuhnya kecil, pendek, tetapi memiliki kelincahan. Jemeu Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jemeu Rebakau, berperawakan sedang, dan Jemeu Sebakas, memiliki postur tubuhnya seperti kebanyakan orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jemeu Rejang dan jemeu Berige tidak jauh berbeda dengan jemeu Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang Besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominan berasal dari puyang Atung Bungsu. Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah didiami oleh suku Rejang dan Berige. Ia sempat berdialog dengan salah seorang pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu Rambut Selake dari Lubuk Umbai yang masing-masing merasa berhak atas tanah Besemah. Melalui sumpah, akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang paling berhak adalah Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut “ jikalu bulak, jikalu buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku”. Sedangkan M. Zoem Derahap, yang dijuluki pak Gasak, dusun Negeri Kaye, Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang di pimpin Ratu Rambut Selake setelah mengakui tanah Besemah milk Atung Bungsu mereka lalu diberi kedudukan sebagai sumbai dalam Jagad Besemah, tetapi tidak masuk dalam sistem pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay. Sebagian masyarakat Besemah percaya bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang ( Puyang Serunting Sakti ) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal dibukit siguntang, lalu pergi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya menetap disuatu tempat yang disebut Padang Langgar ( Pelangkeniday ). Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay yaitu puyang Panjang sebagai juray kebalik-an baru menetap dibagian ilir tanah Besemah yaitu di Balay Buntar ( Lubuk Sepang ).
Ratu Majapahit beranak 7 (tujuh) orang: 1. Puyang Meradjo Saktie, 2. Puyang Meradjo Gantie, 3. Puyang Meradjo Pandoe, 4. Puyang Meradjo Gandoe, 5. Puyang Meradjo Kedam, 6. Puyang Poetri Sandang Bidoek, 7. Puyang Atoeng Bongsoe. Maka Ratu Sinuhun memberi tahu pada anak laki-lakinya bahwa Poetri Sandang Bidoek akan diambil anak [Dikawinkan] dengan Bagus Karang di negeri Raban, serta akan dijadikan raja di Mojopahit (Majapahit). Anak laki-lakinya kecewa sebab mengapa mereka yang laki-laki tidak dijadikan raja Mojopahit. Ada permintaan dari Atoeng Bongsoe kepada Bagus Karang, kalau jadi raja di Mojopahit yaitu minta ayam Papak Berambai Mas, memakai jalu intan sekilan. Permintaan dikabulkan oleh Bagus Karang. Ratu Sinuhun menyuruh ke-enam anak laki-lakinya berkarang mencari ikan. Maka Atoeng Bongsoe berkarang digenting ulu Mana’ di Batanghari Cawang sampai habis ikannya. Ikan dimasukkannya dalam buloh [Buluh=Bambu] Ritie Jadie. Sampai sekarang Batanghari itu bernama Cawang Buloh Ritie dan tidak lagi ditunggu ikan. Ketika Atoeng Bongsoe jalan dari [melalui] tanah Besemah yang pada waktu itu bernama Rimbo Dalam. Pada wktu itu belum ada seorang pun yang tinggal didaerah ini, turun dari bukit Serelo lantas pulang ke Mojopahit. Sampai di Mojopahit saudara puterinya sandang Bidoek telah dikawinkan. Atoeng Bongsoe kecewa, mengapa tidak menunggu dia pulang dari berkarang. Anak-anak Ratu Sinuhun kecewa, mereka lalu pergi kebeberapa tempat, antara lain ke Loera Belido, ke Minangkabau, ke Bugis, ke Aji Komering dan ke Bugis. Atoeng Bongsoe kawin dengan anak ratu Benua Keling Senantan Boewih (Boeway). Atoeng Bongsoe mendapat 2 (dua) anak laki-laki, yaitu: 1. Boejang Djawo (Bujang Jawe), 2. Rio Rakian. Pada suatu ketika Boejang Djawo memecahkan piring Ratu Benua Keling. Anak laki-laki Ratu Benua Keling marah kepada Boejang Bongsoe dan ia berkata bahwa ia mau pulang. Ratu Benua Keling membagi pusaka (warisan). Atoeng Bongsoe mendapat warisan tanah bumi. Ia mengambil tanah sekepal dan setitik air dan satu biji batu dimasukkan di dalam tongkat. Bagian Puyang Atoeng Bongsoe Pati(h) Ampat Lawangan Ampat Pepandin Delapan. Maka Atoeng Bongsoe berjalan nunggangi (naik) kelapa balik mudik sungai sampai di Palembang. Ketemu dengan Putri Sandang Bidoek. Maka Pati Ampat Lawangan Sandang Bidoek di Palembang. Sandang Bidoek memberi satu Bendik bernama Si Awang-Awang. Kata Sandang Didoek “Bilamana Atoeng Bongsoe sudah mendapat kepastian dimana akan bertempat tinggal pukul bendik Si Awang-awang sampai kedengaran dari Palembang”. Maka Atoeng Bongsoe meninggalkan satu meriam bernama Segoering. Kata Atoeng Bongsoe “Kalau ada musuh dari luaran, tembakkan meriam Segoering, supaya segala anak cucunya membantu perang”. Sesudah itu Atoeng Bongsoe mudik sampai muara Lematang, maka air musi ditimbang dengan air Lematang [Ternyata setelah ditimbang lebih berat ayiek lematang], Atoeng Bongsoe [memutuskan] akan mudik Batanghari Lematang. Ketika Boejang Djawe akan mati, dia meninggalkan pesan sama Atoeng Bongsoe, dimana tempat Atoeng Bongsoe menjadikan jagad minta pasangkan asap kemenyan sembilan dan minta dipasangkan kelmbu tujuh lapis, maka Boejang Djawe kembali hidup. Sesudah itu Atoeng Bongsoe naik ke darat berhenti didalam rimba. Rimba ini dinamakannya Padoeraksa [artinya daerah yang baru diperiksa]. Ketika Atoeng berada dalam rimba ini datanglah ratu dari dusun Lubuk Oembay bernama Ratu Rambut Selake [Pimpinan orang Rejang]. Berkatalah ratu Rambut Selake: Apa sebab Atoeng Bongsoe menempati tanahnya ? Dijawab oleh Atoeng Bongsoe, “ Tanah ini tanahku nian, sebab waktu pulang berkarang di Genting Oeloe, mendapat ini tanah dan belum ada satu orangpun yang menunggunya [menempati]”. Dijawab lagi oleh ratu Rambut Selake, “Beghani sumpah, kalau beghani sumpah, ambiklah!”. Maka tanah ini dikasihkan kepada Atoeng Bongsoe. Sesudah itu Rambut Selaku mati, anak cucunya pindah ke Rejang. Setelah itu Atoeng Bongsoe pindah dari rimba Padoekrakso dan kemudian membuat dusun Benua Keling. Suatu ketika istrinya Atong Bongsoe, putri senantan Boewih turun membasuh beras memakai bakul, dimasuki ikan Semah, Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Besemah [yang berarti sungai yang banyak ikan semahnya]. Sesudah itu Atoeng Bongsoe, sesuai dengan pesan Bujang Djawe, ia membakar kemenyan dan memasang kelambu tujuh lapis pada waktu malam 14 maka bujang Djawe turun bergelar Puyang Dewate, dialah yang menjadikan Jagad Besemah, sampai 5 (lima) gilir tidak diperanakkan. Setelah puyang Dewate mati, berturut-turut terdapat puyang: 1. Indiro (Indra) sakti, 2. Indira Muksa, 3. Telage Muksa, 4. Cendane Kilam, dan 5. mandoelike. Puyang Mandoelike beranak 5 ( lima) orang, yaitu: 1. Puyang Sake Semanung (Seminung), menjadikan anak [Sumbai] Ulu Lurah, 2. Puyang Sake Sepadi menjadikan sumbai Tanjung Ghaye, 3. Puyang Seghatus, menjadikan anak Bayoeran, 4. Puyang Sake Saktie menjadikan marga Jati, 5. Puyang Seribu, mati bujang, tidak ada keturunan.
Keempat
Puyang diatas menjumputi {sic.) Depati Lang Bidaro (Depati Karang udare=
Depati Karang Widara) dengan Pangeran Sido Kenayan [Raja Palembang]
mudik [ke tanah] Besemah minta tunjuki adat dengan hukum maka depati
Lang Bidaro dengan Pangeran Sido Kenayan mudik ke tanah Besemah membawa
adat dengan hukum aturan di dalam Jagat yang ditetapkan Kerte [Aturan]
delapan, bagaimana adat, siapa salah disalahkan, siapa benar dibenarkan.
Dan Jagat Besemah ditetapkan Sindang Merdike, kalau ada budak lain atau
barang hilang di Palembang, timbul di Besemah, minta pulangkan di
Palembang, siapa yang menolong, di Palembang dapat Pesalin sepengadap.
Dan empat pesirah ditetapkan memerintah di “Jagat Pasemah”. Bila salah
seorang pesirah itu mati, akan diganti orang lain. Tetapi penggantinya
harus mendapatkan persetujuan Sultan Palembang. Pangeran Sido Kenayan
dengan Depati Lang Bidaro membagi tapal batas tanah Besemah dengan
Palembang. Dimulai dari Way Umpu titik di penyebrangan Bantan, terus di
Batu Banjar, laju di gunung Seminung Ranau, dari situ turun Naurebo
[terletak ditengah gunung Seminung Ranau], laju di pematang Sengang
tengah Ranau, Laju terus tengah laman dusun Kuripan, ‘mungga Bukit
Nanti, turun di Muare Kemumu [Kisam], mungga di tangan Bukit Nanti terus
di Pematang Galang turun di Lubuk Muara Cendawan, laju di Batu Bindoe
Muara Enim, dari situ mungga Bukit Campang di Pagar Gunung, turun di
Ayiek ijuk, terus di Lubuk Muara Senangsangan Mulak Ulu, laju di Danau
Batu, turuhan di Arahan Tungku Tiga, netak Bubungan Arahan Tiga, laju di
Padang Tamba, mungga bukit Kuantjung Berghuk, dari situ terus di Petai Campang Due Bukit
Ulu Pangi (Kikim), dari situ laju di Sialang Pating Besi di Bukit
Sanggul, terus di Bukit Rindu Ati Bengkulu, turun di Padang Tjupak,
terus di Ulu Tuban, titik di teluk Merampuyan, laju di Padang Muara
Selibar Ulu Bengkulu, turun di Laut Besar, sampai di Tampaan Gadak
Sebelah Ulu, yang tersebut ini tanah bumi dikasihkan oleh Pangeran Sido
Kenayan pada orang Besemah. Dari situ ke sebelah ilir Pangeran Sido
Kenayan dengan Depati Lang Bidaro yang punya. Waktu itu tanah Besemah
masih rimba semuanya. Semua orang bikin ladang darat [ume]. Dibelakang
ini tanah Besemah jadi padang membuat siring untuk lahan sawah. Dan lagi
aturan Pasemah kalau sawah angkitan 100 bake harganya 100 gulden. Tanah
yang sudah dibuka, kemudian ditinggalkan (talang), boleh digarap orang
lain asal ada kata mufakat (berunding). Orang yang tidak bikin sawah
tidak dihukum Sultan Palembang. Jika ada tanah yang bisa dibikin
sawah,bukan Pesirah yang membagi tanah itu tapi orang yang bikin sawah
sendiri, lebih dahulu dikasih tahu Pesirah. Awal sejarah pemerintahan
tradisional di Besemah tidak terlepas dari sistem pemerintahan
Kesultanan Palembang. Kaitan atau hubungan antara Kesultanan Palembang
dengan daerah-daerah diwilayah kekuasaannya dikatakan oleh Robert Heine
Gildern (1982). “ di Asia Tenggara Ibukota Kesultanan Palembang bukan
saja merupakan pusat politis dan kebudayaan dari suatu kerajaan dan
masyarakat sekitarnya, juga merupakan pusat magis dari kerajaan.
PEMERINTAHAN TANAH BESEMAH DIZAMAN DULU
Awal sejarah
pemerintahan tradisional di Besemah tidak terlepas dari sistem
pemerintahan Kesultanan Palembang. Kaitan atau hubungan antara
Kesultanan Palembang dengan daerah-daerah diwilayah kekuasaannya
dikatakan oleh Robert Heine Gildern (1982). “ di Asia Tenggara Ibukota
Kesultanan Palembang bukan saja merupakan pusat politis dan kebudayaan
dari suatu kerajaan dan masyarakat sekitarnya, juga merupakan pusat
magis dari kerajaan. Selain sebagai pusat aktivitas kekuasaan politis
kebudayaan, dan magis Kesultanan Palembang secara stuktural membagi
wilayahnya sebagai ibukota, yang memang dibawah kendali Sultan langsung.
Daerah-daerah yang dekat dengan wilayah kerajaan disebut wilayah
Kapungutan, sedangkan wilayah yang berada jauh dari pusat kekuasaan
Kesultanan Palembang disebut wilayah Sindang yang lebih bersifat merdeka
dan hubungannya hanya mengirimkan seba kepada sultan. Diantara
kapungutan dan sindang tersebut adalah wilayah Sikap yang mempunyai
tugas-tugas tertentu dari sultan. Wilayah kesultanan palembang diatas,
tidak begitu identik dengan wilayah provinsi Sumatera-Selatan sekarang
ini. Dalam struktur hirarki pemerintahan Kesultanan Palembang
Darussalam, strata paling atas dan paling berkuasa adalah sultan,
sebagai pengemban “ wahyu Tuhan “. ( pulung, konsep keraton Jawa ) untuk
memerintah. Susuhunan adalah gelar yang diberikan kepada sultan yang
tidak menjabat lagi. Struktur kedua adalah kalangan bangsawan atau
pangeran yang menguasai lima sampai dua belas dusun yang merupakan bagian
dari wilayah kesultanan yang diberikan sultan untuk nafkah hidup
mereka. Pemberian kekuasaan atas wilayah tersebut, disebabkan sultan
Palembang tidak mungkin memberikan gaji kepada semua pangeran yang cukup
banyak jumlahnya. Selama seorang pangeran tetap loyal dan disukai oleh
sultan, kedudukannya dapat diwariskan kepada keturunannya. Struktur
ketiga adalah marga-marga sikap yang terdiri dari beberapa dusun atau
talang. Penduduk dusun itu berkewajiban mengurusi gawe raja secara
pribadi. Selain juga bertugas mengangkut barang barang penghasilan dari
sultan, tetapi mereka dibebaskan dari biaya pembayaran pajak dan
tiban-tukon ( Amin, 1996). Struktur yang ke empat adalah marga-marga
sindang yang berfungsi sebagai penjaga batas yang merdeka. Suku Besemah
dalam status ini mereka tidak dibebani tiban-tukon maupun pajak serta
pekerjaan sultan lainnya. Kewajiban mereka hanya menjaga tapal batas
agar rakyat diwilayah kesultanan palembang tidak melarikan diri ke
Lampung atau Banten. Kewajiban ini terutama dibebankan kepada
sumbay-sumbay yang terdapat didaerah Besemah. Dalam sistem pemerintahan
tradisional besemah dikenal istilah sumbay dan juray. Pengertian sumbay
ini perlu dijelaskan agar maknanya dapat diketahui oleh orang besemah
yang masih hidup sekarang dan yang akan datang. Pada masa puyang pendiri
Besemah masih hidup, ia mempunyai juray-juray. Juray adalah cikal bakal
adanya sumbay. Juray suatu sumbay ada yang menetap ditanah besemah
tetapi ada juga yang merantau keluar dan tidak kembali lagi. Mereka
kemudian membaurkan diri ( nyunggutkah ) dan beradaptasi dengan
lingkungan barunya ( Shoim, 1989). Anak cucu puyang ini membentuk tata
kehidupan sesame mereka. Dari sini timbul keinginan untuk mendudukkan
juray dari puyang-puyang lain, agar tidak muncul persengketaan diantara
keturunan mereka. Juray membentuk kaum-kaumnya dikemudian hari ia
menjadikan kaumnya sebagai suatu kesatuan yang dinamakan sumbay.
Dengan
demikian sumbay merupakan tali pengikat diantara sesame juray dan juga
dalam sumbay, sehingga kata seganti setungguan dalam petulay atau sumbay
dapat diwujudkan. Makna sumbay dan juray adalah sama karena bermakna
keturunan, tetapi dalam kedudukannya menunjukkan adanya perbedaan,
karena juray satu dengan juray lainnya kadangkala berbeda nama sumbay.
Perkembangan keturunan juray berada pada tempat yang sama tetapi dapat
juga terjadi ditempat yang lain, karena ada juray yang telah mendirikan
dusun lain. Akan tetapi anatar sumbay dengan juray selalu mempunyai
ikatan, terutama mereka dalam satu keturunan puyang yang sama.
Dalam
perkembangan selanjutnya, pada pertengan abad ke 19, penduduk besemah
sudah terbagi atas enam Sumbay, yaitu : Sumbay Pangkal Lurah (berjumlah
24 dusun) Sumbay Ulu Lurah (berjumlah 38 dusun) Sumbay Mangku Anum
(berjumlah 19 dusun) Sumbay Besak (berjumlah 52 dusun) Sumbay Penjalang
Sumbay Semidang.
MARGA-MARGA TERAKHIR DI KABUPATEN LAHAT (TANAH BESEMAH), YANG MENGGUNAKAN NAMA SUMBAY.
Marga Penjalang Suku Empayang Kikim dan Saling Ulu (PSEKSU), di Sukajadi Kikim; Kecamatan Kota Lahat; 11 Dusun Maraga Penjalang Suku Empayang Ilir (PSEI), di Gunungkerta, Kecamatan Kikim, 8 dusun. marga Penjalang Suku Lingsing (PS Lingsing), di Pagarjati, Kecamatan Kikim; 7 dusun Marga Penjalang Suku Pangi (PS Pangi), di Nanjungan, Kecamatan Kikim; 7 dusun Maraga Sumbay Besar Suku Alundua (SPS Alundua), di Alundua, Kecamatan Kota Pagaralam; 28 dusun. Marga Sumbay Mangku Anum Suku Muara-Siban (SMAS Muara-Siban), di Bumiangung, kecamatan Kota Pagaralam; 20 dusun. Marga Semidang Suku Pelangkendiday (SS Pelangkendiday).
MARGA-MARGA TERAKHIR DI KABUPATEN LAHAT (TANAH BESEMAH), YANG MENGGUNAKAN NAMA SUMBAY.
Marga Penjalang Suku Empayang Kikim dan Saling Ulu (PSEKSU), di Sukajadi Kikim; Kecamatan Kota Lahat; 11 Dusun Maraga Penjalang Suku Empayang Ilir (PSEI), di Gunungkerta, Kecamatan Kikim, 8 dusun. marga Penjalang Suku Lingsing (PS Lingsing), di Pagarjati, Kecamatan Kikim; 7 dusun Marga Penjalang Suku Pangi (PS Pangi), di Nanjungan, Kecamatan Kikim; 7 dusun Maraga Sumbay Besar Suku Alundua (SPS Alundua), di Alundua, Kecamatan Kota Pagaralam; 28 dusun. Marga Sumbay Mangku Anum Suku Muara-Siban (SMAS Muara-Siban), di Bumiangung, kecamatan Kota Pagaralam; 20 dusun. Marga Semidang Suku Pelangkendiday (SS Pelangkendiday).
Di Pelangkendiday (kemudian di Sukajadi), kecamatan Kota Pagaralam; 7
dusun. Maraga Sumbay Besar Suku Lubukbuntak (SBS Lubukbuntak), di
Lubukbuntak, kecamatan kota Pagaralam; 19 dusun. Maraga Sumbay Besar
Suku Kebun-jati (SBS Kebun-jati) di Kebun-Jati (Kemudian Airdingin
baru), Kecamatan Kota-Agung (Sebenarnya Kota-Agung, dari Kute-agung); 27
dusun. Marga Penjalang Suku Tanjungkurung (PS Tanjungkurung), di
Tanjungkurung (kemudian di Tanjungbay), kecamatan Kuta-agung; 5 dusun.
Marga Sumbay Mangku Anum Suku Penantian (SMAS Penantian), di Penantian
(kemudian di Talangtinggi), Kecamatan jaray; 21 dusun. Marga Sumbay
Tanjung Raya Suku Muara-payang (STRS Muara-payang) kemudian ditalang
tinggi , kecamatan jaray; 7 dusun. Marga Sumbay Ulu Lurah suku
pajar bulan (SULS Pajar bulan), di Pajarbulan (kemudian disimpingtiga
Sumur), Kecamatan Jaray; 29 dusun. Marga Semidang suku Seleman (Marga
Semidang), di Seleman, kecamatan Muara-pinang; 10 dusun. Diluar wilayah
Kabupaten Lahat (Tanah Besemah), marga-marga yang menggunakan nama
Sumbay, yaitu kesatuan genealogis masyarakat Besemah atau masyarakat
asal Besemah adalah Marga Semidang Alun dua suku 2, Kecamatan
Pengandonan, Kabupaten Ogan Kemering Ulu (OKU); Provinsi Sumatera
Selatan; 2 dusun. Marga Semidang-Gumay, Kecamatan Pino, Kabupaten
Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. marga Semidang Alas, Kecamatan
talo, Kabupaten bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Dasar-dasar
pembentukan marga-marga terakhir di Sumatera Selatan Perda
No.2/DPR.Gr.SS/1969; penghapusannya berdasarkan SK Gubernur Kdh Tk.I
Sumsel.
SEJARAH PASEMAH
Sekilas
Sejarah Besemah. Ilustrasi menarik mengenai tempat orang-orang Pasemah
pernah dituliskan oleh JSG Grambreg, seorang pegawai pemerintah Hindia
Belanda yang ditulisnya tahun 1865 sebagai berikut: “Barang siapa yang
mendaki Bukit Barisan dari arah Bengkulu kemudian menjejakkan kaki di
tanah kerajaan Palembang yang begitu luas dan barang siapa yang
melangkahkan kakinya dari arah utara Ampat Lawang (negeri empat gerbang)
menuju ke dataran Lintang yang indah, sehingga ia mencapai kaki sebelah
Barat Gunung Dempo, maka sudah pastilah ia di negeri orang Pasemah.
Jika ia berjalan mengelilingi kaki gunung berapi itu, maka akan tibalah
ia di sisi timur dataran tinggi yang luas yang menikung agak ke arah
Tenggara, dan jika dari situ ia berjalan terus lebih ke arah Timur lagi
hingga dataran tinggi itu berakhir pada sederetan pengunungan tempat,
dari sisi itu, terbentuk perbatasan alami antara negeri Pasemah yang
merdeka dan wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Dari kutipan itu tampak
bahwa saat itu wilayah Pasemah masih belum masuk dalam jajahan Hindia
Belanda. Operasi-operasi militer Belanda untuk menaklukkan Pasemah
sendiri berlangsung lama, dari 1821 sampai 1867. Johan Hanafiah
budayawan Sumatra Selatan, dalam sekapur sirih buku Sumatra Selatan
Melawan Penjajah Abad 19 tersebut menyebutkan bahwa perlawanan orang
Pasemah dan sekitarnya ini adalah perlawanan terpanjang dalam sejarah
perjuangan di Sumatera Selatan abad 19, berlangsung hampir 50 tahun
lamanya.Johan Hanafiah juga menyatakan bahwa pada awalnya orang-orang
luas, khususnya orang Eropa, tidak mengenali siapa sebenarnya
orang-orang Pasemah. Orang Inggris, seperti Thomas Stamford Rafless yang
pahlawan perang Inggris melawan Belanda di Jawa (1811) dan terakhir
mendapat kedudukan di Bengkulu dengan pangkat besar (1817-1824)
menyebutnya dengan Passumah. Namun kesan yang dimunculkan adalah bahwa
orang-orang Passumah ini adalah orang-orang yang liar. Dalam The British
History in West Sumatra yang ditulis oleh John Bastin, disebutkan bahwa
bandit-bandit yang tidak tahu hukum (lawless) dan gagah berani dari
tanah Passumah pernah menyerang distrik Manna tahun 1797. Disebutkan
pula bahwa pada tahun 1818, Inggris mengalami dua malapetaka di
daerah-daerah Selatan yakni perang dengan orang-orang Passumah dan
kematian-kematian karena penyakit cacar.Pemakaian nama Passumah
sebagaimana digunakan oleh orang Inggris tersebut rupanya sudah pernah
pula muncul pada laporan orang Portugis jauh sebelumnya. Disebutkan
dalam satu situs internet bahwa Portugis pernah mendarat di Pacem atau
Passumah (Puuek, Pulau Sumatra) pada bulan Mei 1524. Namun, dari
korespondensi pribadi dengan Marco Ramerini dan Barbara Watson Andaya,
diperoleh konfirmasi bahwa yang dimaksudkan dalam laporan Portugis itu
adalah Aceh, bukan Pasemah seperti yang dikenal ada di Sumatra Selatan
sekarang. Hal ini juga terindikasi dari lokasi Pacem itu sendiri yang
dituliskan berada pada 05.09Lintang Utara 97_14Bujur Timur). Gunung
Dempo sendiri yang disebut -sebut oleh Gramberg di atas berada pada
posisi 04.02 Lintang Selatan 103.008 Bujur Timur.Nama Pasemah yang kini
dikenal sebetulnya adalah lebih karena kesalahan pengucapan orang
Belanda, demikian menurut Mohammad Saman seorang budayawan dan sesepuh
di sana. Adapun pengucapan yang benar adalah Besemah sebagaimana masih
digunakan oleh penduduk yang bermukim di sana. Namun yang kini lebih
dikenal adalah nama Pasemah. Konon, munculnya nama Besemah adalah karena
keterkejutan puyang Atong Bungsu manakala melihat banyak ikan Besemahdi
sebuah sungai yang mengalir di lembah Dempo. Yang terucap oleh puyang
tersebut kemudian adalah Besemahyang berarti ada banyak ikan semah di
sungai tersebut. Hal ini juga tertulis dalam sebuah manuskrip kuno
beraksara Latin berjudul Sejarah Pasemah yang tersimpan di Perpustakaan
Nasional RI di Jakarta. Dalam manuskrip ini dikisahkan bahwa Atong
Bungsu ke Palembangan, Muara Lematang. Dia masuk dan memeriksa rimba
yang kemudian dinamainya Paduraksa yang berarti baru diperiksa.
Istrinya, yakni Putri Senantan Buway, setelah mencuci beras di sungai,
pulang ke darat dengan membawa ikan semah. Maka tanah tersebut kemudian
dinamakan oleh Atong Bungsu sebagai Tana Pasemah.Atong Bungsu itulah
yang dipercaya sebagai nenek moyang suku Pasemah. Menurut manuskrip di
atas, puyang Pasemah ini adalah keturunan dari Majapahit. Ia adalah
salah seorang anak dari delapan anak dari seorang raja di Majapahit yang
berjulukan Ratu Sinuhun. Gramberg sendiri juga menuliskan demikian:
Quote: Orang Pasemah sikapnya kaku dan teguh bila berdiri untuk
menegaskan bahwa kakek moyangnya berasal dari Jawa, dan lebih dari itu,
bahwa ia pun berasal dari Majapahit, ia pun kemudian bercerita mengenai
dongeng (mitologi) yang hidup di kalangannya. Menarik untuk ditambahkan
bahwa Gramberg juga melukiskan adanya perbedaan yang sangat mencolok
antara orang Pasemah dengan orang Melayu dataran tinggi yang tinggal
disekitarnya. Menurutnya, orang Pasemah pertama-tama adalah petani yang
membangun sawah, memasang saluran air dan menggunakan hewan penarik
beban. Sehingga, dalam hal bertani kedudukannya setingkat lebih tinggi
daripada orang Melayu di sekitarnya yang hanya mengenal peladangan.
Selain itu, dari raut muka terlihat kecerdasannya yang lebih, bangun
tubuhnya lebih terkembang, dengan sepak terjang yang lebih enerjik.
Kemudian, dengan agama yang menyembah berhala serta dari segi akar kosa
kata yang digunakan, Gramberg lebih yakin dengan teori bahwa orang
Pasemah adalah masuk ras orang Jawa kuno.Mengenai persawahan, manuskrip
kuno Sejarah Pasemah juga diungkapkan kisah Puyang Keriya Sidi yang
mengajak orang untuk membuat sawah, sehingga orang Pasemah saat itu
membuat sawah tidak berkesudahan. Hal ini kembali menyiratkan bahwa
orang Pasemah masa dahulu sudah cukup dalam dalam mengolah lahan
pertanian, bahkan persawahan.Mengenai puyang Atung Bungsu, agak berbeda
dengan cerita di atas, Rahman Effendi Martabaya (2004) menyebutkan bahwa
Atung Bungsu sebetulnya adalah Putra Mahkota Kerajaan Rao di India,
dengan nama lengkap Y.M. Sri Mapuli Atung Bungsu. Menurutnya, Atung
Bungsu memimpin angkatan laut kedua dari Kerajaan Rao yang dikirim pada
tahun 101 Saka/179 Masehi setelah angkatan pertama yang dikirim sebelumnya ke Sumatra tidak ada kabarnya. Dalam tulisan Martabaya
tersebut ditemukan adanya air sungai/Ayik Besemah yang dari dataran
tinggi Bukitraja Mehendra Mahendra (Bukit Raje Bendare) yang mengalir ke
Barat dan bermuara di Sungai Lematang wilayah Kota Pagar Alam. Bukit
Raje Bendare ini sampai saat ini masih ada, terletak di Kecamatan
Tanjung Sakti.Pada saat ini, Pasemah dikenal sebagai nama sebuah suku di
suatu dataran tinggi di seputar Gunung Dempo (3159 m) dan Bukit Barisan
(400-900 m), Sumatera Selatan. Di sekitarnya terdapat suku-suku lain
seperti Semendo (disebut-sebut berakar dari silsilah yang sama),
Lintang, Gumay, Empat Lawang. Namun demikian terkadang, Pasemah langsung
dihubungkan dengan Kabupaten Lahat. Artinya, Pasemah dianggap juga
mencakup suku-suku di sekitarnya, seperti Lintang). Pasemah sendiri,
dalam beberapa sumber dipilah menjadi beberapa bagian, yakni Pasemah
Lebar, Pasemah Ulu Manna (di sebelah Selatan), Pasemah Ulu Lintang
(sebelah Barat Laut), Pasemah Air Keruh (berada jauh di balik Bukit
Barisan. Tiga terakhir ini penduduknya berasal dari Pasemah Lebar yang
beremigrasi dan beradaptasi dengan daerah di sekitarnya yaitu bekas
daerah Kesultanan Palembang dan daerah jajahan Inggris di Bengkulu.
Pasemah Ulu Manna sendiri, pada masa penjajahan Belanda masuk
Karesidenan Bengkulu. Kecamatan Tanjung baru menjadi bagian dari
Sumatera Selatan sejak tahun 1948, setelah dilakukan pemungutan suara
dengan cara yang sederhana untuk menentukan hendak menjadi bagian dari
Sumatera Selatan ataukah Bengkulu. Namun, daerah yang agaknya paling pas
untuk menunjuk keberadaan suku Pasemah adalah perbatasan Sumatera
Selatan dan Bengkulu.Terlepas dari hal itu, Pasemah sendiri mempunyai
tempat khusus dalam studi-studi arkeologi sehubungan dengan
peninggalan-peninggalan pra-sejarahnya. Seperti disebutkan oleh Peter
Bellwood seorang arkeolog dari Australian National University (ANU),
Dataran Tinggi Pasemah merupakan salah satu pusat temuan
bangunan-bangunan prasejarah yang penting di Indonesia. Bangunan
megalitik Pasemah yang ada disebutkan sangat menarik dan telah menarik
perhatian, sejak tahun 1950. Berbagai bentuk pahatan batu dikenal
sebagai The Art of Pasemah. Berkaitan dengan tugu batu yang ada di
Pasemah, antropolog Belanda Heine-Geldern pernah memperkirakan bahwa hal
ini merupakan petunjuk telah adanya hubungan erat dengan Cina sekitar
abad 1-2 SM, karena kemiripannya dengan peninggalan serupa di satu
wilayah di Cina. Sebagian uraian Victor Purcell (1965) yang dikutip
Lewis adalah sebagai berikut: Quote: …Dr. Heine-Geldern di tahun 1934
menjelaskan stylistic similarities antara pahatan batu prasejarah yang
ada di daerah Pasemah di Sumatra bagian Selatan dengan yang ada di makam
Jenderal Cina Huo K’iu-ping di Propinsi Shensi China, yang dibuat tahun
117 SM. Ini, katanya, tampaknya mengindikasikan setidaknya ada hubungan
erat dengan Cina, yang mungkin telah mulai ada sekitar abad pertama dan
kedua SM. Bellwood dalam bukunya meragukan kesimpulan bahwa hubungan
dengan Cina sudah terjadi pada abad-abad itu. Menurutnya, kontak dagang
Indonsia dengan Cina mungkin amat jarang terjadi sebelum Dinasti Tang
(618-906 M). Sementara Kamil Mahruf memperkirakan suku Pasemah telah ada
sekitar awal tahun 700-an. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa
Prasasti Palas Pasemah yang ada di Lampung dan bertahun 680 M itu ada
hubungannya dengan Tanah Pasemah.
Mengenai
asal-usul suku Besemah, hingga saat ini masih diliputi kabut rahasia.
Yang ada hanyalah cerita-cerita yang bersifat legenda atau mitos, yaitu
mitos Atung Bungsu, yang merupakan salah satu di antara 7 orang anak
ratu ( raja) Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri sungai
Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benua keling. Atung
Bungsu menikah dengan putri Ratu Benua keling, bernama Senantan Buih
(Kenantan Buih). Melalui keturunannya Bujang Jawe (Puyang Diwate),
puyang Mandulike, puyang Sake Semenung, puyang Sake Sepadi, puyang Sake
Seghatus, dan puyang Sake Seketi yang menjadikan penduduk Jagat Besemah
(Lihat Bagan Alir).
Setelah
kolonialis Belanda dapat mengalahkan perlawanan Sultan Mahmud Badaruddin
II melalui Perang Palembang tahun 1819 dan 1821. Mengenai hubungan
dengan Kesultanan Palembang, suku Besemah selalu menganggap dirinya
sebagai orang yang bebas, orang merdike. Hubungan Sultan Palembang
dengan suku Besemah lebih bersifat suzereinitas daripada souveriginitas
(Hens, 1909:12-15) Kewajiban ke Bukit Seguntang pada tiap tiga tahun
sekali, lebih diartikan sebagai nggaghi kelaway tue, Putri Sindang
Biduk. Sultan Palembang cukup menghormati orang-orang Besemah, terbukti
dengan status yang diberikannya status Sindang Merdike dan Si Penjaga
Batas (Grensbewakers). Suku Besemah sering melakukan, yang menurut
istilah Belanda membuat kerusuhan (onlusten), membuat huru-hara
(woelingen), atau mengganggu ketenteraman (rustverstoring).
Menyadari bahwa pihak Belanda pasti akan melakukan serangan, orang Besemah membuat benteng-benteng pertahanan yang kuat, disebut kute di beberapa dusun. Misalnya Kute Gelungsakti, Kute Penandingan, Kute Tebatseghut, Kute-agung, Kute Menteralam, dan kute-kute lainnya. Pimpinan militer Belanda memutuskan mengirimkan ekspedisi militernya untuk menghancurkan kekuatan orang-orang Besemah, yang dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juni tahun 1866. Belanda mengalahkan Besemah Oleh karena persenjataan yang lebih modern, pengalaman perang yang cukup, dan pasukan yang terlatih, akhirnya Belanda dapat menguasai satu persatu kute pertahanan prajurit-prajurit Besemah, yaitu Kute dusun Gelungsakti, Kute Penandingan, Kute Tebatseghut, Kute-agung, Kute Menteralam dan lain-lain. Pada pertempuran di kute-kute tersebut terlihat bahwa prajurit-prajurit Besemah lebih memilih kemungkinan mati daripada menyerah, terutama pada pertempuran di Tebatseghut dan Menteralam. Setelah mengalahkan perlawanan di daerah Besemah Libagh (Besemah Lebar), pasukan Belanda melanjutkan serangannya ke Besemah Ulu Manak untuk menangkap tokoh-tokoh pemimpin Besemah yang bersembunyi di daerah ini. Kekalahan ini menyebabkan rakyat Besemah harus tunduk kepada peraturan yang dikeluarkan pemerintah Belanda. Misalnya, mereka harus membayar pajak tanah, pajak rumah, menghentikan perdagangan budak, dan menghentikan kebiasaan menyabung ayam. Peraturan dan ketentuan-ketentuan itu merupakan hal baru dan sangat memberatkan bagi orang-orang Besemah yang tidak ada sebelumnya. Hal ini berarti, status Sindang Merdike dan Si Penjaga Batas menjadi hilang Dengan kekalahan tersebut, mulailah daerah Besemah dijajah Belanda dengan segala penderitaan dan kesulitan ekonomi. Penderitaan ini berlangsung hampir selama 82 tahun. Sejarah Sriwijaya Versi A Grozali 2006-06-19T00:51:24.403-07:00 *(Ahmad Bastari Suan, SPd )*Peminat Sejarah dan Budaya Nusantara AHMAD GROZALI Mengkerin, penulis angkatan Balai Pustaka, dengan karya tulisnya yang terkenal Syair Si Pahit Lidah, mempunyai pendapat lain tentang sejarah Sriwijaya. Pendapatnya itu tertuang dalam satu manuskrip yang disimpan oleh keluarga orang yang disapanya dengan sapaan paman di Palembang. Dokumentasi pribadi paman Abdullah Senibar itu patut dijadikan bahan kajian tentang sejarah Sriwijaya atau sejarah lokal Sumsel. Judul manuskrip yang ditulis oleh penulis Balai Pustaka itu adalah Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah .Ahmad Grozali, penulis Syair Si Pahit Lidah, yang sebagai jurnalis pernah menulis artikel Gara-gara Berdialog itu, mengemukakan pendapatnya tentang Sriwijaya sebagai berikut.Pada tahun 101 Syaka (bertepatan dengan tahun 179 Masehi), berlabuhlah tujuh bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang iu adalah Bukit Seguntang yang sekarang, yaitu bukit dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.Pada masa itu, yaitu sekitar abad kedua Masehi, daerah Sumatera Selatan ini masih merupakan bencah lebar atau rawa-rawa yang sangat luas. Hanya ada beberapa daratan yang tampak seperti terapung di atas permukaan laut. Di antara daratan yang muncul di atas permukaan laut itu adalah (1) Bukit Seguntang, sebagai apung pertama; (2) Kute Abung Bukit Serela, sebagai apung tengah; dan (3) Daratan Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu, sebagai apung kulon (apung barat).Kute Abung Bukit Serela adalah Bukit Serelo di Kabupaten Lahat, yang sekarang dikenal juga dengan nama Bukit Jempol. Di situ pernah ditemukan jangkar jung kuno yang berasal dari awal abad Masehi. Daerah itu dikenal juga dengan sebutan Abung Tinggi. Bukit Serelo atau Bukit Jempol itu tingginya 670 meter di atas permukaan laut.Dataran Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu itu adalah wilayah Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat dengan gunung tertinggi di Sumatera Selatan, yang kini dikenal dengan Gunung Dempo. Gunung Dempu (Dempo) itu sebenarnya mempunyai tiga puncak, yaitu (1) puncak belumut (Gunung Lumut), (2) puncak beghapi (Gunung Berapi), dan (3) puncak dempu (Gunung Dempu). Puncak yang tertinggi adalah puncak Dempu (Gunung Dempu), 3.173 meter di atas permukaan laut. Putra Mahkota Angkatan Bahtera (Armada Jung) yang berlabuh di Pulau Seguntang pada tahun 101 Syaka atau 179 Masehi itu, dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Sebagai penasihat Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu adalah Ariya Tabing dari Kepulauan Massava (Filipina) dan Umayullah dari Parsi Persia (Iran).Perjalanan Angkatan Bahtera Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu adalah perjalanan kedua yang dilakukan oleh Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) untuk menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, yaitu pulau-pulau di tenggara benua Asia. Perjalanan pertama berlangsung sebelum tahun 10 Syaka atau tahun 80-an Masehi. Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) yang berangkat ke Nusantara sebelum tahun 10 Syaka itu dipimpin oleh Seri Nuruddin yang berasal dari Kepulauan Massava (Filipina), yang pada waktu itu menjabat sebagai Ariya Passatan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao).Angkatan Seri Nuruddin telah berpuluh-puluh tahun tidak kembali ke Kerajaan Rau (Rao) di India, bahkan tidak ada kabar sama sekali. Oleh sebab itu maka dikirim angkatan kedua, angkatan susulan, yang dipimpin langsung oleh yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Mereka mengharung samudera, menuju ke pulau-pulau Nusantara.Pada hari Jumat, hari ke-14, bulan Haji (bulan Zulhijjah), tahun 101 Syaka, bertepatan dengan tahun 179 Masehi, mendaratlah Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu yang memimpin Angkatan Tujuh Bahtera itu di daratan, di dekat pohon cendana, di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang. Di situ beliau Yang Mulia menemukan satu bumbung (berumbung) atau tabung yang berisi lempengan emas bersurat. Lempengan emas bersurat dalam bumbung yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu itu, ternyata adalah surat atau warkah yang ditandatangani oleh Seri Nuruddin, Ariya Passetan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao), bertanggal hari kesebelas, bulan ketujuh (bulan Rajab), tahun 10 Syaka, bertepatan dengan tahun 88 Masehi.SuratInilah isi surat atau warkah emas yang ditulis dan ditandatangani oleh Seri Nuruddin, yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di bawah pohon cendana, di Bukit Seguntang itu. Kami tak dapat lagi pulang ke India karena segala alat perlengkapan kami telah rusak binasa. Tetapi kami telah menemukan beberapa pulau, di antaranya ada yang kami namakan Tanah Jawa karena di dalamnya (di pulau itu) banyak kami mendapat buah jawa, yang kami makan dan dijadikan bubur.Barangsiapa mendapatkan barang ini (surat ini) hendaklah menyampaikannya ke hadirat Yang Diperlukan Kerajaan Rau (Rao) di India .Demikianlah isi surat pertama yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di Bukit Seguntang. Setelah penemuan surat pertama itu, Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu menemukan surat yang kedua. Rupanya tahun pembuatan dan orang yang membuat atau menulis surat itu berlainan. Surat yang kedua ditulis pada tahun 50 Syaka (128 Masehi). Yang menulisnya adalah Ariya Saka Sepadi, Bukan Seri Nuruddin.Surat yang ditulis oleh Ariya Saka Sepadi pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) itu dituliskan pada kain bambu (bilah-bilah bambu) yang isinya sebagai berikut. Pada tahun 50 Syaka (128 Masehi), Yang Mulia Seri Nuruddin meninggal dunia di Muara Lematang dan kami makamkan dia di sana dengan upacara yang selayaknya. Ditulis oleh Ariya Saka Sepadi .Demikianlah di antara tanda-tanda yang mereka peroleh atau temukan bersama-sama dengan beberapa benda lain peninggalan Angkatan Bahtera Seri Nuruddin yang telah rusak binasa pada tahun 10 Syaka (88 Masehi) dan perihal kematian Seri Nuruddin sendiri pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) di Muara Lematang, sebelah barat Bukit Seguntang.Tera Yang Mulia Seri Mapuli Dewan Atung Bungsu yang mendarat di Bukit Seguntang pada tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu segera mendirikan pondokan bagi angkatannya (rombongannya). Di situ, Yang Mulia menitahkan kepada Ariya Tabing, Nakhoda Bahtera Penjalang untuk menera (menimbang) semua sungai di sekitar Pulau Seguntang.Ariya Tabing bertanya kepada Atung Bungsu, Sungai yang mana yang mesti ditera (ditimbang) Maka dijawab oleh Yang Dipertuan Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, Semua tera (artinya, semua mesti ditimbang). Dari kata-kata jawaban Atung Bungsu Semua tera itulah asalnya nama pulau Sumatera . Semua tera , yang kemudian menjadi Sumatera , artinya semua timbang; maksudnya, semua sungai yang ada di sekitar Pulau Seguntang (Bukit Seguntang) mesti ditimbang karena dalam amanat Paduka Yang Mulia Ayahnda Baginda Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, di mana sungai yang paling berat timbangannya (paling berat kadar airnya), di situ akan berdiri kerajaan yang paling besar di dunia dan akan termasyhur sampai ke mana-mana.Demi mengikuti amanat itu, berganti-ganti air sungai ditera (=ditimbang) oleh Ariya Tabing atas titah Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Maka kedapatanlah sungai di Dataran Tinggi Tanah Besemah yang paling berat timbangannya. Sungai itu dinamakan Sungai Bersama karena didapat atau ditemukan bersama oleh Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, Ariya Tabing, dan angkatannya. Sungai itu sekarang dikenal dengan nama Ayik Besemah (Air Besemah) atau sungai Besemah yang mengalir dari timur Bukit Raje Mendara (Raja Mahendra), melintasi dusun Sarangdale (Karanganyar), Dusun Tebatgunung, dusun Nanding, dan bermuara di Air Lematang atau Sungai Lematang dekat dusun Mingkik dan Dusun Benuwakeling, Kota Pagaralam.Di sekitar Air Besemah bermuara ke Air Lematang itulah Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu membuat dusun-dusun dengan sebutan Sumbay Paku Jagat Seriwijaya , semacam Pasak Bhumi Majapahit , dalam kerajaan Majapahit Raya. Maka ditanamkanlah batu-tugu (menhir) sebagai peringatan, yaitu Batu Lancang Putih , yang dibawa dari puncak Gunung Himalaya. Batu-tugu itu berwarna putih di bagian atasnya dan berwarna merah di bagian bawahnya. Sampai sekarang Batu Lancang Putih itu masih terdapat di dekat Makam Ratu Seri Wijaya, di dekat dusun Benuwakeling, Kota Pagaralam.(Sripo 3.03)
Menyadari bahwa pihak Belanda pasti akan melakukan serangan, orang Besemah membuat benteng-benteng pertahanan yang kuat, disebut kute di beberapa dusun. Misalnya Kute Gelungsakti, Kute Penandingan, Kute Tebatseghut, Kute-agung, Kute Menteralam, dan kute-kute lainnya. Pimpinan militer Belanda memutuskan mengirimkan ekspedisi militernya untuk menghancurkan kekuatan orang-orang Besemah, yang dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juni tahun 1866. Belanda mengalahkan Besemah Oleh karena persenjataan yang lebih modern, pengalaman perang yang cukup, dan pasukan yang terlatih, akhirnya Belanda dapat menguasai satu persatu kute pertahanan prajurit-prajurit Besemah, yaitu Kute dusun Gelungsakti, Kute Penandingan, Kute Tebatseghut, Kute-agung, Kute Menteralam dan lain-lain. Pada pertempuran di kute-kute tersebut terlihat bahwa prajurit-prajurit Besemah lebih memilih kemungkinan mati daripada menyerah, terutama pada pertempuran di Tebatseghut dan Menteralam. Setelah mengalahkan perlawanan di daerah Besemah Libagh (Besemah Lebar), pasukan Belanda melanjutkan serangannya ke Besemah Ulu Manak untuk menangkap tokoh-tokoh pemimpin Besemah yang bersembunyi di daerah ini. Kekalahan ini menyebabkan rakyat Besemah harus tunduk kepada peraturan yang dikeluarkan pemerintah Belanda. Misalnya, mereka harus membayar pajak tanah, pajak rumah, menghentikan perdagangan budak, dan menghentikan kebiasaan menyabung ayam. Peraturan dan ketentuan-ketentuan itu merupakan hal baru dan sangat memberatkan bagi orang-orang Besemah yang tidak ada sebelumnya. Hal ini berarti, status Sindang Merdike dan Si Penjaga Batas menjadi hilang Dengan kekalahan tersebut, mulailah daerah Besemah dijajah Belanda dengan segala penderitaan dan kesulitan ekonomi. Penderitaan ini berlangsung hampir selama 82 tahun. Sejarah Sriwijaya Versi A Grozali 2006-06-19T00:51:24.403-07:00 *(Ahmad Bastari Suan, SPd )*Peminat Sejarah dan Budaya Nusantara AHMAD GROZALI Mengkerin, penulis angkatan Balai Pustaka, dengan karya tulisnya yang terkenal Syair Si Pahit Lidah, mempunyai pendapat lain tentang sejarah Sriwijaya. Pendapatnya itu tertuang dalam satu manuskrip yang disimpan oleh keluarga orang yang disapanya dengan sapaan paman di Palembang. Dokumentasi pribadi paman Abdullah Senibar itu patut dijadikan bahan kajian tentang sejarah Sriwijaya atau sejarah lokal Sumsel. Judul manuskrip yang ditulis oleh penulis Balai Pustaka itu adalah Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah .Ahmad Grozali, penulis Syair Si Pahit Lidah, yang sebagai jurnalis pernah menulis artikel Gara-gara Berdialog itu, mengemukakan pendapatnya tentang Sriwijaya sebagai berikut.Pada tahun 101 Syaka (bertepatan dengan tahun 179 Masehi), berlabuhlah tujuh bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang iu adalah Bukit Seguntang yang sekarang, yaitu bukit dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.Pada masa itu, yaitu sekitar abad kedua Masehi, daerah Sumatera Selatan ini masih merupakan bencah lebar atau rawa-rawa yang sangat luas. Hanya ada beberapa daratan yang tampak seperti terapung di atas permukaan laut. Di antara daratan yang muncul di atas permukaan laut itu adalah (1) Bukit Seguntang, sebagai apung pertama; (2) Kute Abung Bukit Serela, sebagai apung tengah; dan (3) Daratan Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu, sebagai apung kulon (apung barat).Kute Abung Bukit Serela adalah Bukit Serelo di Kabupaten Lahat, yang sekarang dikenal juga dengan nama Bukit Jempol. Di situ pernah ditemukan jangkar jung kuno yang berasal dari awal abad Masehi. Daerah itu dikenal juga dengan sebutan Abung Tinggi. Bukit Serelo atau Bukit Jempol itu tingginya 670 meter di atas permukaan laut.Dataran Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu itu adalah wilayah Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat dengan gunung tertinggi di Sumatera Selatan, yang kini dikenal dengan Gunung Dempo. Gunung Dempu (Dempo) itu sebenarnya mempunyai tiga puncak, yaitu (1) puncak belumut (Gunung Lumut), (2) puncak beghapi (Gunung Berapi), dan (3) puncak dempu (Gunung Dempu). Puncak yang tertinggi adalah puncak Dempu (Gunung Dempu), 3.173 meter di atas permukaan laut. Putra Mahkota Angkatan Bahtera (Armada Jung) yang berlabuh di Pulau Seguntang pada tahun 101 Syaka atau 179 Masehi itu, dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Sebagai penasihat Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu adalah Ariya Tabing dari Kepulauan Massava (Filipina) dan Umayullah dari Parsi Persia (Iran).Perjalanan Angkatan Bahtera Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu adalah perjalanan kedua yang dilakukan oleh Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) untuk menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, yaitu pulau-pulau di tenggara benua Asia. Perjalanan pertama berlangsung sebelum tahun 10 Syaka atau tahun 80-an Masehi. Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) yang berangkat ke Nusantara sebelum tahun 10 Syaka itu dipimpin oleh Seri Nuruddin yang berasal dari Kepulauan Massava (Filipina), yang pada waktu itu menjabat sebagai Ariya Passatan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao).Angkatan Seri Nuruddin telah berpuluh-puluh tahun tidak kembali ke Kerajaan Rau (Rao) di India, bahkan tidak ada kabar sama sekali. Oleh sebab itu maka dikirim angkatan kedua, angkatan susulan, yang dipimpin langsung oleh yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Mereka mengharung samudera, menuju ke pulau-pulau Nusantara.Pada hari Jumat, hari ke-14, bulan Haji (bulan Zulhijjah), tahun 101 Syaka, bertepatan dengan tahun 179 Masehi, mendaratlah Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu yang memimpin Angkatan Tujuh Bahtera itu di daratan, di dekat pohon cendana, di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang. Di situ beliau Yang Mulia menemukan satu bumbung (berumbung) atau tabung yang berisi lempengan emas bersurat. Lempengan emas bersurat dalam bumbung yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu itu, ternyata adalah surat atau warkah yang ditandatangani oleh Seri Nuruddin, Ariya Passetan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao), bertanggal hari kesebelas, bulan ketujuh (bulan Rajab), tahun 10 Syaka, bertepatan dengan tahun 88 Masehi.SuratInilah isi surat atau warkah emas yang ditulis dan ditandatangani oleh Seri Nuruddin, yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di bawah pohon cendana, di Bukit Seguntang itu. Kami tak dapat lagi pulang ke India karena segala alat perlengkapan kami telah rusak binasa. Tetapi kami telah menemukan beberapa pulau, di antaranya ada yang kami namakan Tanah Jawa karena di dalamnya (di pulau itu) banyak kami mendapat buah jawa, yang kami makan dan dijadikan bubur.Barangsiapa mendapatkan barang ini (surat ini) hendaklah menyampaikannya ke hadirat Yang Diperlukan Kerajaan Rau (Rao) di India .Demikianlah isi surat pertama yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di Bukit Seguntang. Setelah penemuan surat pertama itu, Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu menemukan surat yang kedua. Rupanya tahun pembuatan dan orang yang membuat atau menulis surat itu berlainan. Surat yang kedua ditulis pada tahun 50 Syaka (128 Masehi). Yang menulisnya adalah Ariya Saka Sepadi, Bukan Seri Nuruddin.Surat yang ditulis oleh Ariya Saka Sepadi pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) itu dituliskan pada kain bambu (bilah-bilah bambu) yang isinya sebagai berikut. Pada tahun 50 Syaka (128 Masehi), Yang Mulia Seri Nuruddin meninggal dunia di Muara Lematang dan kami makamkan dia di sana dengan upacara yang selayaknya. Ditulis oleh Ariya Saka Sepadi .Demikianlah di antara tanda-tanda yang mereka peroleh atau temukan bersama-sama dengan beberapa benda lain peninggalan Angkatan Bahtera Seri Nuruddin yang telah rusak binasa pada tahun 10 Syaka (88 Masehi) dan perihal kematian Seri Nuruddin sendiri pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) di Muara Lematang, sebelah barat Bukit Seguntang.Tera Yang Mulia Seri Mapuli Dewan Atung Bungsu yang mendarat di Bukit Seguntang pada tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu segera mendirikan pondokan bagi angkatannya (rombongannya). Di situ, Yang Mulia menitahkan kepada Ariya Tabing, Nakhoda Bahtera Penjalang untuk menera (menimbang) semua sungai di sekitar Pulau Seguntang.Ariya Tabing bertanya kepada Atung Bungsu, Sungai yang mana yang mesti ditera (ditimbang) Maka dijawab oleh Yang Dipertuan Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, Semua tera (artinya, semua mesti ditimbang). Dari kata-kata jawaban Atung Bungsu Semua tera itulah asalnya nama pulau Sumatera . Semua tera , yang kemudian menjadi Sumatera , artinya semua timbang; maksudnya, semua sungai yang ada di sekitar Pulau Seguntang (Bukit Seguntang) mesti ditimbang karena dalam amanat Paduka Yang Mulia Ayahnda Baginda Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, di mana sungai yang paling berat timbangannya (paling berat kadar airnya), di situ akan berdiri kerajaan yang paling besar di dunia dan akan termasyhur sampai ke mana-mana.Demi mengikuti amanat itu, berganti-ganti air sungai ditera (=ditimbang) oleh Ariya Tabing atas titah Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Maka kedapatanlah sungai di Dataran Tinggi Tanah Besemah yang paling berat timbangannya. Sungai itu dinamakan Sungai Bersama karena didapat atau ditemukan bersama oleh Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, Ariya Tabing, dan angkatannya. Sungai itu sekarang dikenal dengan nama Ayik Besemah (Air Besemah) atau sungai Besemah yang mengalir dari timur Bukit Raje Mendara (Raja Mahendra), melintasi dusun Sarangdale (Karanganyar), Dusun Tebatgunung, dusun Nanding, dan bermuara di Air Lematang atau Sungai Lematang dekat dusun Mingkik dan Dusun Benuwakeling, Kota Pagaralam.Di sekitar Air Besemah bermuara ke Air Lematang itulah Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu membuat dusun-dusun dengan sebutan Sumbay Paku Jagat Seriwijaya , semacam Pasak Bhumi Majapahit , dalam kerajaan Majapahit Raya. Maka ditanamkanlah batu-tugu (menhir) sebagai peringatan, yaitu Batu Lancang Putih , yang dibawa dari puncak Gunung Himalaya. Batu-tugu itu berwarna putih di bagian atasnya dan berwarna merah di bagian bawahnya. Sampai sekarang Batu Lancang Putih itu masih terdapat di dekat Makam Ratu Seri Wijaya, di dekat dusun Benuwakeling, Kota Pagaralam.(Sripo 3.03)
Asal-usul
suku Besemah, hingga saat ini masih diliputi kabut rahasia. Yang ada
hanyalah cerita-cerita yang bersifat legenda atau mitos, yaitu mitos
Atung Bungsu, yang merupakan salah satu di antara 7 orang anak ratu (
raja) Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri sungai Lematang,
akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benuakeling. Atung Bungsu
menikah dengan putri Ratu Benuakeling, bernama Senantan Buih (Kenantan
Buih). Melalui keturunannya Bujang Jawe (Puyang Diwate), puyang
Mandulike, puyang Sake Semenung, puyang Sake Sepadi, puyang Sake
Seghatus, dan puyang Sake Seketi yang menjadikan penduduk Jagat Besemah
(Lihat Bagan Alir).
Besemah
suatu terminology lebih dikenal dekat dengan satu bentuk kebudayaan dan
suku yang berada disekitar gunung Dempo dan pegunungan Gumay. Wilayah
ini dikenal dengan Rena Besemah. Sedangkan untuk terminology politik dan
pemerintahan, dipergunakan nomenklatur Pasemah. Pada masa kolonila oleh
Inggris dan Belanda menyebutnya Pasumah, bahkan sampai sekarang
Pemerintah Republik Indonesia masih menyebutnya Pasemah. *Tanah Besemah
merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Bukit Barisan
mengelilingi Gunung Dempo, beriklim tropis, berudara sejuk, dikenal
sebagai salah satu daerah penghasil kopi, teh, dan sayur mayur. Penduduk
tanah besemah termasuk rumpun suku Melayu Tengah, sejak dahulu sudah
dikenal mempunyai peradaban dan nilai-nilai budaya tinggi. Hal ini
dibuktikan banyaknya peninggalan Prasejarah dalam bentuk arca, menhir
serta tulisan yang belum dapat dibaca, seni tutur dalam bentuk guritan,
tadut, rejung dan lain-lain; permainan alat musik tradisional berupa
ginggung dan lain-lain. Dalam sistem kekerabatan secara umum masyarakat
Besemah menganut sistem patrilineal, artinya menganut garis keturunan
laki-laki, maka timbul istilah meraje untuk garis keturunan dari
laki-laki dan anak belay untuk garis keturunan dari perempuan. Sesuai
dengan perjalanan waktu sistem kekerabatan dari patrilineal juga mengalami perkembangan ke
arah bilateral melalui alter nerend. Demikian pula masyarakat yang
tadinya bersifak komunal yang didasarkan pada ikatan keturunan
teritorial, genelogis, telah terkontaminasi oleh pengaruh peradaban
dunia Barat yang dikenal dengan faham materialistis dan individualistis,
sehingga seolah-olah masyarakat Tanah Besemah sudah tercabut dari
nilai-nilai dasar persamaan garis keturunan, persamaan tanah leluhur,
rasa dan tanggung jawab terhadap kelompok, ikatan kekerabatan dan nilai
kegotong-royongan. Sementara itu di beberapa tribe atau suku, ikatan
kekeluargaan atau tali persaudaraan tetap dipertahankan, bahkan ada
kecenderungan menguat. Sebut saja misalnya Kerukunan Keluarga Minang,
Keluarga Sulawesi selatan, Keluarga Batak, Etnis Keturunan Tionghoa.
Bila kita amati suku atau ikatan keluarga yang tetap memepertahankan dan
emmelihara sistem kekerabatan, dalam berbagai aspek relatif lebih maju
bila dibandingkan dengan suku yang tidak lagi mempertahankan sistem
kekerabatan, baik dibidang sosial budaya, ekonomi, dan politik.
Sesungguhnya suku atau keluarga Besemah patut berbangga karena Tanah
Besemah telah banyak melahirkan putera-uteri terbaik bangsa, baik
ditingkat regional, nasional naupun internasional dengan beraneka ragam
profesi. Basema suatu terminology lebih dikenal dekat dengan satu bentuk
kebudayaan dan suku yang berada disekitar Gunung Dempo dan Pegunungan
Gumay. Wialayah ini dikenal sebagai Rena Basema. Sedangkan untuk
terminology politik dan pemerintahan, dipergunakan nomenklatur Pasemah.
Pada masa kolonial oleh Inggris dan Belanda menyebutnya Pasemah, bahkan
sampai sekarang Pemerintahan Republik Indonesia masih menyebutnya
Pasemah. Kebudayaan suatu suku atau bangsa sangatlah dipengaruhi oleh
lingkungan alam, dimana mereka hidup dan berkehidupan. Kebudayaan itu
adalah bagaimana manusianya mengantisipasi dan bereaksi akan alam
lingkungannya. Orang yang hidup dipegunungan tentu akan lain sekali
orang hidup dataran dan dipinggir pantai. Siapakah orang Basema ? Bangsa
atau suku bangsa yang ada didunia mempunyai isi kebudayaan yang terdiri
dari 7 unsur: apakah kebudayaan itu sederhana, terisolasi, maju, besar
maupun kompleks, menurut para ahli antropologi terdiri dari unsur-unsur,
yaitu : Bahasa System teknologi System ekonomi Organisasi social Sistem
pengetahuan Religi Kesenian Dengan mengetahui bentuk dan isi kebudayaan
Basema maka kita dapat mengetahui apa dan siapa jemeu Basema. Pasemah
Sindang Merdika Hubungan antara Basemah dengan Kesultanan Palembang
adalah 6: Orang Pasemah Lebar mempunyai catatan tradisional bahwa asal
usul mereka adalah keturunan dari Jawa. Pada saat kejayaan Majapahit,
dua saudara yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan, dengan
beberapa orang pengikutnya, meninggalkan kerajaan tersebut dan mendarat
di pantai timur Sumatera. Saudara perempuannya menetap di Palembang dan
dalam waktu singkat menjadi seorang penguasa; sebaliknya saudara
laki-laki berjalan terus kearah pedalaman, sampailah di lembah subur
Pasemah. Dari sinilah tempat ini pertama kali dikendalikan dan
berpenduduk; dan semenjak itu menjadi tanah asal suku yang ada sekarang.
Pernyataan diatas citra hubungan psikologis, social, geopolitik antara
Kesultanan Palembang dan Pasemah sehingga berhak menyandang bentuk
wilayahnya sebagai sindang. Dengan kedudukan wilayahnya sebagai wilayah
sindang, maka jelaslah orang Basema mendapat tugas khusus dan tempat
khusus didalam struktur Kesultanan Basema mendapat tugas khusus dan
tempat khusus didalam struktur Kesultanan Palembang. Itulah sebabnya
sindang ini disebut Pasemah Sindang Merdika. Dapunta Hiyang adalah orang
Pasemah. Sebetulnya hubungan antara Pasemah dan Palembang jauh sebelum
kelahiran Kesultanan Palembang Darussalam telah terjalin. John N. Miskic
7 ; kehidupan perekonomian dan kebudayaan Pasemah pada sekitar abad
ke-7 seperti berikut : Pasemah probably formed a prehistoric of cultural
development which supplied a necessary precondition enabling a
sophiscated political and economic centre of sriwijaya to development at
Palembang, to which Pasemah is linked by river. Sedangkan Peter
Bellwood 8 melihat, dari segi pentrikhan pahatan-pahatan itu adalah
bentuk nekara tipe Heger I yang dipahatnya pada relief Batugajah,
Airputih, dilukis juga pada dinding ruang kubur Kotaraya Lembak dan
mungkin juga diukir pada batuan alami yang terbuka dekat Tegurwangi.
Bukti-bukti ini dapat menyarankan tarikh awal atau pertengahan milinium
Masehi, meskipun mungkin ada yang bertumpang tindih kurun waktunya
dengan masa kerajaan Sriwijaya (sesudah tahun 670 M). Atas bukti-bukti
dan saran serta pemikiran para pakar arkeologi dan sejarah, sebetulnya
sudah dapat disimpulkan, bahwa peran Jabat Besemah terhadap kerajaan
Sriwijaya sangat besar, jika tidak dikatakan menentukan. Oleh karena itu
saya berasumsi, kalau Dapunta Hiyang Srijayanaga, raja Sriwijaya yang
bergelar sebagai Raja Gunung adalah jemeu dari Gunung Dempo. Asumsi ini
telah saya sampaikan pada Seminar Internasional pada ulang tahun ke 25
Tahun Kerjasama Pusat Penelitian Arkeologi dan Ecole francaise
Extreme-Orient tahun 2001. Asumsi ini tidak ada yang menolak, sebaliknya
belum ada yang mendukung. Jagat Besemah bumi perjuangan. Jemeu Besemah
adalah orang-orang pemberani, diakui oleh penulis kolonial. Berwatak
setia kawan, dan loyal terhadap komitmen yang membuat saudara ataupun
teman seperjuangan Sultan Palembang, meneruskan perjuang setelah Sultan
Mahmud Badaruddin II dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1821.
Orang-orang Sindang Merdika di Pasemah menolak tindakan Belanda
tersebut. Mereka meneruskan perjuangan di Pasemah pada tahun 1821 sampai
1866. Bahkan pada saat-saat pertempuran melawan Belanda di Palembang
1821, orang-orang Besemah sekali lagi bersumpah setia dengan Sultan
Palembang di Bukit Seguntang. Pemberontakan yang diadakan oleh rakyat
Besema ini juga disebabkan dengan sikap Belanda yang tidak dapat
mengerti dengan bentuk dan karakter tradisional, dan tentunya kurang
pendekatan budaya. Pandangan yang picik terhadap orang Besema seperti
yang telah disampaikan terdahulu: orang Pasemah tak akan dapat diajak
bicara jika tidak diberi unjuk kekuatan militer, inilah sikap kolonial
yang sangat fatal. Atas sikap ini pula menjadi jelas, ketika meletusnya
rentetan pemberontakan yang berkepanjangan dari kelompok suku-suku
didaerah Sindang, misalnya serangan orang Pasemah ke kota Palembang
(1829), Lahat(1829), Musi Ulu)1837), Rejang(1840), Ampat
Lawang(1840-1850) dan beberapa jenis pemberontakan kecil, serupa umunya
dari daerah Sindang, bahwa kekuasaan mereka didaerah Sindang tidak
terima begitu saja. Wilayah Besema dapat diduduki Belanda pada
penghujung tahun 1866. Semangat pejuang Besema ini terus menyala
sehingga menjelang revolusi kemerdekaan. Jepang mendidik para calon
perwira yang nantinya melahirkan para perwira di Pagar Alam. Disekolah
Ghuyung ini Jepang hanya melatih fisik kemiliteran, akan tetapi semangat
kejuangan dihembuskan oleh semangat Besema. Tidak mengherankan kalau
dari Pagar Alam ini lahir para perwira yang berkiprah ditingkat
nasional. Di alam Revolusi Fisik sekali lagi Jagat Besema menjadi tempat
perlindungan pemerintahan sipil Republik Indonesia dalam hal ini
Keresidenan Palembang. Demikian pula penempatan-penempatan kesatuan TNI,
seperti Brigade Garuda Dempo, Sub Teritorium Palembang (STP). Wajar
saja jika Pemrintahan Kota Pagar Alam mengklaim sebagai : Bumi
Perjuangan sebagai mottonya. Daerah Besemah terletak dikaki Bukit
Barisan. Daerahnya meluas dari lereng-lereng Gunung Dempo ke selatan
sampai ke Ulu Sungai Ogan (Kisam), ke Barat sampai ke Ulu Alas (Besemah
Ulu Alas), ke Utara sampai ke Ulu Musi Besemah (Ayik Keghuh), dan ke
daerah timur sampai Bukit Pancing. Pada Masa Lampik Empat Merdike Due
daerah Besemah sudah dibagi atas Besemah Libagh, Besemah Ulu Lintang,
Besemah Ulu Manak, dan Besemah Ayik Keghuh. Meskipun nama-namanya
berbeda, namunpenduduknya mempunyai hubungan atau ikatan kekerabatan yang kuat
(genealogis). Daerah Besemah merupakan datran tinggi dan pegunungan yang
bergelombang. Ketinggian wilayah sangat bervariasi, dari ketinggian
sekita 441 meter dpl (diatas permukaan laut) sampai dengan 3.000-an
meter lebih dpl. Daerah dataran tinggi 441 meter sampai dengan 1.000
meter dpl, sedangkan daerah berbukit dan bergunung (bagian pegunungan)
berada pada ketinggian diatas 1.000 meter hingga 3.000 meter lebih dpl
titik tertinggi adalah 3.173 meter dpl, yaitu puncak Gunung Dempo, yang
sekaligus merupakan Gunung tertinggi di Sumatera Selatan. Daerah Guning
Dempo dengan lereng-lerenganya pada sisi timur dan tenggara mencakup
58.19% dari luas wilayah kota Pagar Alam sekarang yang 633,66 hektar.
Bukit dan Gunung yang terpenting diwilayah kota Pagar Alam antara lain
adalah Gunung Dempo (3.173 meter), Gunung Patah (2.817 meter), Bukit
Raje Mendare, Bukit Candi, Bukit Mabung Beras, Bukit Tungku Tige (Tungku
Tiga), dan Bukit Lentur. Bagian wilayah kota yang merupakan dataran
tinggi, terutama bagian timur, umunya disebut Tengah Padang . Daerah
pusat kota Pagar Alam yang meliputi kecamatan Pagar Alam Utara dan
kecamatan Pagar Alam Selatan atau wilayah bekas Marga Sumbai Besak Suku
Alun Due terletak pada ketinggian rata-rata 600 sampai 3.173 meter dpl.
Derah Besemah dialiri sejumlah sungai. Satu diantaranya adlah sungai
Besemah (Ayik Besemah). Pada zaman dahulu, keadaan alamnya sangat sulit
dilewati, menyebakan daerah ini jarang didatangi oleh Sultan Palembang
atau wakil-wakilnya (raban dan jenag). Kondisi alam yang cukup berat ini
menyebabkan sulitnya pasukkan Belanda melakukan ekspedisi-ekspedisi
meliter untuk memadamkan gerakan perlawanan orang Besemah. Mengenai
keadaan alam Besemah pada permulaan abad ke sembilan belas, menurut
pendatang Belanda dari karangan Van Rees tahun 1870 melukiskan. Sampai
dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit
didatangi disebelah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan
kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya
terdiri dari beberapa suku saja, mereka menamakan dirinya rakyat bebas
merdeka. Dari Barat Daya sulit ditembus ole orang-orang Bengkulu, dari
tiga sudut lain di pagari oleh Gunung-gunung yang menjulang tinggi dan
ditutupi oleh hutan yang lebat dan luas di daerah pedalam Palembang ASAL
MUASAL JEME BESEMAH Sampai sekarang masih belum jelas dari mana
sebenarnya asalusul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan
penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku besemah, masih
diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas, jauh berabad-abad sebelum
hadirnya mitos Atung Bungsu, ditanah Besemah, dilereng Guning Dempo dan
dareh sekitarnya, telah ada masyarakat yang memiliki kebudayaan tradisi
megalitik dan bukti-bukti budaya megalitik ditanah besemah sampai
sekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah sekarang
ini adalah keturunan dari pendukung budaya megalitik tersebut ?.
Menurut Ahad, jurai tue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasai bahwa
sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah sekitar Gunung Dempo, telah
datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa yang
tidak di ketahui asalnya. Suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jeme
Kam-kam, jeme Nik, jeme Nuk, jeme Ducung, jeme Aking, jeme Rebakau, jeme
Sebakas, jeme Rejang dan jeme Berige. Pada masa tanah disekitar Gunung
Dempo di duduki oleh jeme Rejang dan jeme Berige, datanglah Atung
Bungsu. Dari cerita orang-orang tua (jeme-jeme tue), secara fisik jeme
Nik dan jeme Nuk memiliki badang yang tinggi besar hidung mancung dan
kulit putih kemerahan. Jeme Ducung perawakan tubuhnya kecil, pendek,
tetapi memiliki kelincahan. Jeme Aking juga tinggi besar, kekar,
kulitnya merah keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jeme
Rebakau, berperawakan sedang, dan Jeme Sebakas, memiliki postur tubuhnya
seperti kebanyakan orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jeme
Rejang dan jeme Berige tidak jauh berbeda dengan jeme Sebakas. Ahad
mengatakan bahwa orang besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan
dari berbagai suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominant
berasal dari puyang Atung Bungsu. Menurut cerita rakyat di Besemah,
Atung Bungsu datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah didiami oleh
suku Rejang dan Berige. Ia sempat berdialog dengan salah seorang
pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu Rambut Selake dari Lubuk Umbai
yang nasing-masing merasa berhak atas tanah Besemah. Melalui sumpah,
akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang paling berhak adalah
Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut jikalu
bulak, jikalu buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku .
Sedangkan M. Zoem Derahap, yang dijuluki pak Gasak, dusun Negeri Kaye,
Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang di pimpin Ratu
Rambut Selake setelah mengakui tanah Besemah milk Atung Bungsu mereka
lalu diberi kedudukan sebagai sumbai dalam Jagad Besemah, tetapi tidak
masuk dalam sistem pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka
itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay. Sebagian masyarakat Besemah percaya
bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang ( Puyang
Serunting Sakti ) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang
Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal dibukit
siguntang, lalu pergi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya
menetap disuatu tempat yang disebut Padang Langgar ( Pelangkeniday ).
Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay yaitu puyang Panjang sebagai juray
kebalik-an baru menetap dibagian ilir tanah besemah yaitu di Balay
Buntar ( Lubuk Sepang ). Ratu Majapahit beranak 7 (tujuh) orang: 1.
Puyang Meradjo Saktie, 2. Puyang Meradjo Gantie, 3. Puyang Meradjo
Pandoe, 4. Puyang Meradjo Gandoe, 5. Puyang Meradjo Kedam, 6. Puyang
Poetri Sandang Bidoek, 7. Puyang Atoeng Bongsoe. Maka Ratu Sinuhun
memberi tahu pada anak laki-lakinya bahwa Poetri Sandang Bidoek akan
diambil anak [Dikawinkan] dengan Bagus Karang di negeri Raban, serta
akan dijadikan raja di Mojopahit (Majapahit). Anak laki-lakinya kecewa
sebab mengapa mereka yang laki-laki tidak dijadikan raja Mojopahit. Ada
permintaan dari Atoeng Bongsoe kepada Bagus Karang, kalau jadi raja di
Mojopahit yaitu minta ayam Papak Berambai Mas, memakai jalu intan
sekilan. Permintaan dikabulkan oleh Bagus Karang. Ratu Sinuhun menyuruh
ke-enam anak laki-lakinya berkarang mencari ikan. Maka Atoeng Bongsoe
berkarang digenting ulu Mana di Batanghari Cawang sampai habis ikannya.
Ikan dimasukkannya dalam boloh [Buluh=Bambu] Ritie Jadie. Sampai
sekarang Batanghari itu bernama Cawang Boloh Ritie dan tidak lagi
ditunggu ikan. Ketika Atoeng Bongsoe jalan dari [melalui] tanah Pasemah
yang pada waktu itu bernama Rimbo Dalam. Pada wktu itu belum ada seorang
pun yang tinggal didaerah ini, turun dari bukit Serelo lantas pulang ke
Mojopahit. Sampai di Mojopahit saudara puterinya sandang Bidoek telah
dikawinkan. Atoeng Bongsoe kecewa, mengapa tidak menunggu dia pulang
dari berkarang. Anak-anak Ratu Sinuhun kecewa, mereka lalu pergi
kebeberapa tempat, antara lain ke Loera Belido, ke Minangkabau, ke
Bugis, ke Aji Komering dan ke Bugis. Atoeng Bongsoe kawin dengan anak
ratu Benua Keling Senantan Boewih (Boeway). Atoeng Bongsoe mendapat 2
(dua) anak laki-laki, yaitu: 1. Boejang Djawo (Bujang Jawe), 2. Rio
Rakian. Pada suatu ketika Boejang Djawo memecahkan piring Ratu Benua
Keling. Anak laki-laki Ratu Benua Keling marah kepada Boejang Bongsoe
dan ia berkata bahwa ia mau pulang. Ratu Benua Keling membagi pusaka
(warisan). Atoeng Bongsoe mendapat warisan tanah bumi. Ia mengambil
tanah sekepal dan setitik air dan satu biji batu dimasukkan di dalam
tongkat. Bagian Puyang Atoeng Bongsoe Pati(h) Ampat Lawangan Ampat
Pepandin Delapan. Maka Atoeng Bongsoe berjalan nunggangi (naik) kelapa
balik mudik sungai sampai di Palembang. Ketemu dengan Putri Sandang
Bidoek. Maka Pati Ampat Lawangan Sandang Bidoek di Palembang. Sandang
Bidoek memberi satu Bendik bernama Si Awang-Awang. Kata Sandang Didoek
Bilamana Atoeng Bongsoe sudah mendapat kepastian dimana akan bertempat
tinggal pukul bendik Si Awang-awang sampai kedengaran dari Palembang .
Maka Atoeng Bongsoe meninggalkan satu meriam bernama Segoering. Kata
Atoeng Bongsoe Kalau ada musuh dari luaran, tembakkan meriam Segoering,
supaya segala anak cucunya membantu perang . Sesudah itu Atoeng Bongsoe
mudik sampai muara Lematang, maka air musi ditimbang dengan air
Lematang [Ternyata setelah ditimbang lebih berat ayiek lematang], Atoeng
Bongsoe [memutuskan] akan mudik Batanghari Lematang. Ketika Boejang
Djawe akan mati, dia meninggalkan pesan sama Atoeng Bongsoe, dimana
te,pat Atoeng Bongsoe menjadikan jgad minta pasangkan asap kemenyan
sembilan dan minta dipasangkan kelmbu tujuh lapis, maka Boejang Djawe
kembali hidup. Sesudah itu Atoeng Bongsoe naik ke darat berhenti didalam
rimba. Rimab ini dinamakannya Padoeraksa [artinya daerah yang baru
diperiksa]. Ketika Atoeng berada dalam rimna ini datanglah ratu dari
dusun Lubuk Oembay bernama Ratu Rambut Selake [Pimpinan orang Rejang].
Berkatalah ratu Rambut Selake: Apa sebab Atoeng Bongsoemenempati tanahnya ? Dijawab oleh Atoeng Bongsoe, Tanah ini tanahku
nian, sebab waktu pulang berkarang di Genting Oeloe, mendapat ini tanah
dan belum ada satu orangpun yang menunggunya [menempati] . Dijawab lagi
oleh ratu Rambut Selake, Beghani sumpah, kalau beghani sumpah,
ambiklah! . Maka tanah ini dikasihkan kepada Atoeng Bongsoe. Sesudah itu
Rambut Selaku mati, anak cucunya pindah ke Rejang. Setelah itu Atoeng
Bongsoe pindah dari rimba Padoekrakso dan kemudian membuat dusun Benua
Keling. Suatu ketika istrinya Atong Bongsoe, putri senantan Boewih turun
membasuh beras memakai bakul, dimasuki ikan Semah, Itulah sebabnya
daerah ini dinamakan Besemah [yang berarti sungau yang banyak ikan
semahnya]. Sesudah itu Atoeng Bongsoe, sesuai dengan pesan Bujang
Dje\awe, ia membakar kemenyan dan memasang kelambu tujuh lapis pada
waktu malam 14 maka bujang Djawe turun bergelar Puyang Dewate, dialah
yang menjadikan Jagad Besemah, sampai 5 (lima) gilirtidak diperanakkan.
Setelh puyang Dewate mati, berturut-turut terdapat puyang: 1. Indiro
(Indra) sakti, 2. Indira Muksa, 3. Telage Muksa, 4. Cendane Kilam, dan
5. mandoelike. Puyang Mandoelike beranak 5 ( lima) orang, yaitu: 1.
Puyang Sake Semanung (Seminung), menjadikan anak [Sumbai] Ulu Lurah, 2.
Puyang Sake Sepadi menjadikan sumbai Tanjung Ghaye, 3. Puyang Seghatus,
menjadikan anak Bayoeran, 4. Puyang Sake Saktie menjadikan marga Jati,
5. Puyang Seribu, mati bujang, tidak ada keturunan. Keempat Puyang
diatas menjumputi {sic.) Depati Lang Bidaro (Depati Karang udare= Depati
Karang Widara) dengan Pangeran Sido Kenayan [Raja Palembang] mudik [ke
tanah] Pasemah minta tunjuki adat dengan hukum maka depati Lang Bidaro
dengan Pangeran Sido Kenayan mudik ke tanah Pasemah membawa adat dengan
hukum aturan di dalam Jagat yang ditetapkan Kerte [Aturan] delapan,
bagaimana adat, siapa salah disalahkan, siapa benar dibenarkan. Dan
Jagat Pasemah ditetapkan Sindang Merdike, kalau ada budak lain atau
barang hilang di Palembang, timnbul di Pasemah, minta pulangkan di
Palembang, siapa yang menolong, di Palembang dapat Pesalin sepengadap.
Dan empat pesirah ditetapkan memerintah di Jagat Pasemah . Bila salah
seorang pesirah itu mati, akan diganti orang lain. Tetapi penggantinya
harus mendapatkan persetujuan Sultan Palembang. Pangeran Sido Kenayan
dengan Depati Lang Bidaro membagi tapal batas tanah Pasemah dengan
Palembang. Dimulai dari Way Umpu titik di penyebrangan Bantan, terus di
Batu Banjar, laju di gunung Seminung Ranau, dari situ turun Naurebo
[terletak ditengah gunung Seminung Ranau], laju di pematang Sengang
tengah Ranau, Laju terus tengah laman dusun Kuripan, mungga Bukit
Nanti, turun di Muare Kemumu [Kisam], mungga di tangan Bukit Nanti terus
di Pematang Galang turun di Lubuk Muara Cendawan, laju di Batu Bindoe
Muara Enim, dari situ mungga Bukit Campang di Pagar Gunung, turun di
Ayiek ijuk, terus di Lubuk Muara Senangsangan Mulak Ulu, laju di Danau
Batu, turuhan di Arahan Tungku Tiga, netak Bubungan Arahan Tiga, laju di
Padang Tamba, mungga bukit Kuantjung Berghuk, dari situ terus di Petai
Campang Due Bukit Ulu Pangi (Kikim), dari situ laju di Sialang Pating
Besi di Bukit Sanggul, terus di Bukit Rindu Ati Bengkulu, turun di
Padang Tjupak, terus di Ulu Tuban, titik di teluk Merampuyan, laju di
Padang Muara Selibar Ulu Bengkulu, turun di Laut Besar, sampai di
Tampaan Gadak Sebelah Ulu, yang tersebut ini tanah bumi dikasihkan oleh
Pangeran Sido Kenayan pada orang Pasemah. Dari situ ke sebelah ilir
Pangeran Sido Kenayan dengan Depati Lang Bidaro yang punya. Waktu itu
tanah Pasemah masih rimba semuanya. Semua orang bikin ladang darat
[ume]. Dibelakang ini tanah Pasemah jadi padang membuat siring untuk
lahan sawah. Dan lagi aturan Pasemah kalau sawah angkitan 100 bake
harganya 100 gulden. Tanah yang sudah dibuka, kemudian ditinggalkan
(talang), boleh digarap orang lain asal ada kata mufakat (berunding).
Orang yang tidak bikin sawah tidak dihukum Sultan Palembang. Jika ada
tanah yang bisa dibikin sawah,bu kan Pesirah yang membagi tanah itutapi
orang yang bikin sawah sendiri, lebih dahulu dikasih tahu Pesirah Awal
sejarah pemerintahan tradisional di Besemah tidak terlepas dari sistem
pemerintahan Kesultanan Palembang. Kaitan atau hubungan antara
Kesultanan Palembang dengan daerah-daerah diwilayah kekuasaannya
dikatakan oleh Robert Heine Gildern (1982). di Asia Tenggara Ibukota
Kesultanan Palembang bukan saja merupakan pusat politis dan kebudayaan
dari suatu kerajaan dan masyarakat sekitarnya, juga merupakan pusat
magis dari kerajaan PEMERINTAHAN TANAH BESEMAH DIZAMAN DULU Awal sejarah
pemerintahan tradisional di Besemah tidak terlepas dari sistem
pemerintahan Kesultanan Palembang. Kaitan atau hubungan antara
Kesultanan Palembang dengan daerah-daerah diwilayah kekuasaannya
dikatakan oleh Robert Heine Gildern (1982). di Asia Tenggara Ibukota
Kesultanan Palembang bukan saja merupakan pusat politis dan kebudayaan
dari suatu kerajaan dan masyarakat sekitarnya, juga merupakan pusat
magis dari kerajaan. Selain sebagai pusat aktivitas kekuasaan politis
kebudayaan, dan magis Kesultanan Palembang secara stuktural membagi
wilayahnya sebagai ibukota, yang memang dibawah kendali Sultan langsung.
Daerah-daerah yang dekat dengan wilayah kerajaan disebut wilayah
Kapungutan, sedangkan wilayah yang berada jauh dari pusat kekuasaan
Kesultanan Palembang disebut wilayah Sindang yang lebih bersifat merdeka
dan hubungannya hanya mengirimkan seba kepada sultan. Diantara
kapungutan dan sindang tersebut adalah wilayah Sikap yang mempunyai
tugas-tugas tertentu dari sultan. Wilayah kesultanan palembang diatas,
tidak begitu identik dengan wilayah provinsi Sumatera-Selatan sekarang
ini. Dalam struktur hirarki pemerintahan Kesultanan Palembang
Darussalam, strata paling atas dan paling berkuasa adalah sultan,
sebagai pengemban wahyu Tuhan . ( pulung, konsep keraton Jawa ) untuk
memerintah. Susuhunan adalah gelar yang diberikan kepada sultan yang
tidak menjabad lagi. Struktur kedua adalah kalangan bangsawan atau
pangeran yang menguasai lima sampai duabelas dusun yang merupakan bagian
dari wilayah kesultanan yang diberikan sultan untuk nafkah hidup
mereka. Pemberian kekuasaan atas wilayah tersebut, disebabkan sultan
Palembang tidak mungkin memberikan gaji kepada semua pangeran yang cukup
banyak jumlahnya. Selama seorang pangeran tetap loyal dan disukai oleh
sultan, kedudukannya dapat diwariskan kepada keturunannya. Struktur
ketiga adalah marga-marga sikap yang terdiri dari beberapa dusun atau
talang. Penduduk dusun itu berkewajiban mengurusi gawe raja secara
pribadi. Selain juga bertugas mengangkut barang barang penghasilan dari
sultan, tetapi mereka dibebaskan dari biaya pembayaran pajak dan
tiban-tukon ( Amin, 1996). Struktur yang ke empat adalah marga-marga
sindang yang berfungsi sebagai penjaga batas yang merdeka. Suku Besemah
dalam status ini mereka tidak dibebani tiban-tukon maupun pajak serta
pekerjaan sultan lainnya. Kewajiban mereka hanya menjaga tapal batas
agar rakyat diwilayah kesultanan palembang tidak melarikan diri ke
Lampung atau Banten. Kewajiban ini terutama dibebankan kepada
sumbay-sumbay yang terdapat didaerah Besemah. Dalam sistem pemerintahan
tradisional besemah dikenal istilah sumbay dan juray. Pengertian sumbay
ini perlu dijelaskan agar maknanya dapat diketahui oleh orang besemah
yang masih hidup sekarang dan yang akan datang. Pada masa puyang pendiri
Besemah masih hidup, ia mempunyai juray-juray. Juray adalah cikal bakal
adanya sumbay. Juray suatu sumbay ada yang menetap ditanah besemah
tetapi ada juga yang merantau keluar dan tidak kembali lagi. Mereka
kemudian membaurkan diri ( nyunggutka ) dan beradaptasi dengan
lingkungan barunya ( Shoim, 1989). Anak cucu puyang ini membentuk tata
kehidupan sesame mereka. Dari sini timbul keinginan untuk mendudukkan
juray dari puyang-puyang lain, agar tidak muncul persengketaan diantara
keturunan mereka. Juray membentuk kaum-kaumnya dikemudian hari ia
menjadikan kaumnya sebagai suatu kesatuan yang dinamakan sumbay. Dengan
demikian sumbay merupakan tali pengikat diantara sesame juray dan juga
dalam sumbay, sehingga kata seganti setungguan dalam petulay atau sumbay
dapat diwujudkan. Makna sumbay dan juray adalah sama karena bermakna
keturunan, tetapi dalam kedudukannya menunjukkan adanya perbedaan,
karena juray satu dengan juray lainnya kadangkala berbeda nama sumbay.
Perkembangan keturunan juray berada pada tempat yang sama tetapi dapat
juga terjadi ditempat yang lain, karena ada juray yang telah mendirikan
dusun lain. Akan tetapi anatar sumbay dengan juray selalu mempunyai
ikatan, terutama mereka dalam satu keturunan puyang yang sama. Dalam
perkembangan selanjutnya, pada pertengan abad ke 19, penduduk besemah
sudah terbagi atas enam Sumbay, yaitu : Sumbay Pangkal Lurah (berjumlah
24 dusun) Sumbay Ulu Lurah (berjumlah 38 dusun) Sumbay Mangku Anum
(berjumlah 19 dusun) Sumbay Besak (berjumlah 52 dusun) Sumbay Penjalang
Sumbay Semidang.
JEME BESEMAH
Basemah
suatu terminology lebih dikenal dekat dengan satu bentuk kebudayaan dan
suku yang berada disekitar Gunung Dempo dan Pegunungan Gumay. Wialayah
ini dikenal sebagai Rena Basema. Sedangkan untuk terminology politik dan
pemerintahan, dipergunakan nomenklatur Pasemah. Pada masa kolonial oleh
Inggris dan Belanda menyebutnya Pasemah, bahkan sampai sekarang
Pemerintahan Republik Indonesia masih menyebutnya Pasemah. Kebudayaan
suatu suku atau bangsa sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan alam,
dimana mereka hidup dan berkehidupan. Kebudayaan itu adalah bagaimana
manusianya mengantisipasi dan bereaksi akan alam lingkungannya. Orang
yang hidup dipegunungan tentu akan lain sekali orang hidup dataran dan
dipinggir pantai. Siapakah orang Basema ? Bangsa atau suku bangsa yang
ada didunia mempunyai isi kebudayaan yang terdiri dari 7 unsur: apakah
kebudayaan itu sederhana, terisolasi, maju, besar maupun kompleks,
menurut para ahli antropologi terdiri dari unsur-unsur, yaitu :Bahasa
System teknologi System ekonomi Organisasi social Sistem pengetahuan
Religi Kesenian Dengan mengetahui bentuk dan isi kebudayaan Basema maka
kita dapat mengetahui apa dan siapa jemeu Basema. Pasemah Sindang
Merdika Hubungan antara Basema dengan Kesultanan Palembang adalah 6:
“Orang Pasemah Lebar mempunyai catatan tradisional bahwa asal usul
mereka adalah keturunan dari Jawa. Pada saat kejayaan Majapahit, dua
saudara yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan, dengan beberapa
orang pengikutnya, meninggalkan kerajaan tersebut dan mendarat di pantai
timur Sumatera. Saudara perempuannya menetap di Palembang dan dalam
waktu singkat menjadi seorang penguasa; sebaliknya saudara laki-laki
berjalan terus kearah pedalaman, sampailah di lembah subur Pasemah. Dari
sinilah tempat ini pertama kali dikendalikan dan berpenduduk; dan
semenjak itu menjadi tanah asal suku yang ada sekarang.” Pernyataan
diatas citra hubungan psikologis, social, geopolitik antara Kesultanan
Palembang dan Pasemah sehingga berhak menyandang bentuk wilayahnya
sebagai sindang. Dengan kedudukan wilayahnya sebagai wilayah sindang,
maka jelaslah orang Basema mendapat tugas khusus dan tempat khusus
didalam struktur Kesultanan Basema mendapat tugas khusus dan tempat
khusus didalam struktur Kesultanan Palembang. Itulah sebabnya sindang
ini disebut Pasemah Sindang Merdika. Dapunta Hiyang adalah orang
Pasemah. Sebetulnya hubungan antara Pasemah dan Palembang jauh sebelum
kelahiran Kesultanan Palembang Darussalam telah terjalin. John N. Miskic
7 ; kehidupan perekonomian dan kebudayaan Pasemah pada sekitar abad
ke-7 seperti berikut :”Pasemah probably formed a prehistoric of cultural
development which supplied a necessary precondition enabling a
sophiscated political and economic centre of sriwijaya to development at
Palembang, to which Pasemah is linked by river.” Sedangkan Peter
Bellwood 8 melihat, dari segi pentrikhan pahatan-pahatan itu adalah
bentuk nekara tipe Heger I yang dipahatnya pada relief Batugajah,
Airputih, dilukis juga pada dinding ruang kubur Kotaraya Lembak dan
mungkin juga diukir pada batuan alami yang terbuka dekat Tegurwangi.
Bukti-bukti ini dapat menyarankan tarikh awal atau pertengahan milinium
Masehi, meskipun mungkin ada yang bertumpang tindih kurun waktunya
dengan masa kerajaan Sriwijaya (sesudah tahun 670 M). Jagat Besema bumi
perjuangan. Jemeu Besema adalah orang-orang pemberani, diakui oleh
penulis kolonial. Berwatak setia kawan, dan loyal terhadap komitmen yang
membuat saudara ataupun teman seperjuangan Sultan Palembang, meneruskan
perjuang setelah Sultan Mahmud Badaruddin II dikalahkan oleh Belanda
pada tahun 1821. Orang-orang Sindang Merdika di Pasemah menolak tindakan
Belanda tersebut. Mereka meneruskan perjuangan di Pasemah pada tahun
1821 sampai 1866. Bahkan pada saat-saat pertempuran melawan Belanda di
Palembang 1821, orang-orang Besema sekali lagi bersumpah setia dengan
Sultan Palembang di Bukit Seguntang. Pemberontakan yang diadakan oleh
rakyat Besema ini juga disebabkan dengan sikap Belanda yang tidak dapat
mengerti dengan bentuk dan karakter tradisional, dan tentunya kurang
pendekatan budaya. Pandangan yang picik terhadap orang Besema seperti
yang telah disampaikan terdahulu: orang Pasemah tak akan dapat diajak
bicara jika tidak diberi unjuk kekuatan militer, inilah sikap kolonial
yang sangat fatal. Atas sikap ini pula menjadi jelas, ketika meletusnya
rentetan pemberontakan yang berkepanjangan dari kelompok suku-suku
didaerah Sindang, misalnya serangan orang Pasemah ke kota Palembang
(1829), Lahat(1829), Musi Ulu)1837), Rejang(1840), Ampat
Lawang(1840-1850) dan beberapa jenis pemberontakan kecil, serupa umunya
dari daerah Sindang, bahwa kekuasaan mereka didaerah Sindang tidak
terima begitu saja. Wilayah Besema dapat diduduki Belanda pada
penghujung tahun 1866. Semangat pejuang Besema ini terus menyala
sehingga menjelang revolusi kemerdekaan. Jepang mendidik para calon
perwira yang nantinya melahirkan para perwira di Pagar Alam. Disekolah
Ghuyung ini Jepang hanya melatih fisik kemiliteran, akan tetapi semangat
kejuangan dihembuskan oleh semangat Besema. Tidak mengherankan kalau
dari Pagar Alam ini lahir para perwira yang berkiprah ditingkat
nasional.
Di alam
Revolusi Fisik sekali lagi Jagat Besema menjadi tempat perlindungan
pemerintahan sipil Republik Indonesia dalam hal ini Keresidenan
Palembang. Demikian pula penempatan-penempatan kesatuan TNI, seperti
Brigade Garuda Dempo, Sub Teritorium Palembang (STP).
Wajar saja
jika Pemrintahan Kota Pagar Alam mengklaim sebagai : Bumi Perjuangan
sebagai mottonya. Daerah Besemah terletak dikaki Bukit Barisan.
Daerahnya meluas dari lereng-lereng Gunung Dempo ke selatan sampai ke
Ulu Sungai Ogan (Kisam), ke Barat sampai ke Ulu Alas (Besemah Ulu Alas),
ke Utara sampai ke Ulu Musi Besemah (Ayik Keghuh), dan ke daerah timur
sampai Bukit Pancing. Pada Masa Lampik Empat Merdike Due daerah Besemah
sudah dibagi atas Besemah Libagh, Besemah Ulu Lintang, Besemah Ulu
Manak, dan Besemah Ayik Keghuh. Meskipun nama-namanya berbeda, namun
penduduknya mempunyai hubungan atau ikatan kekerabatan yang kuat
(genealogis). Daerah Besemah merupakan datran tinggi dan pegunungan yang
bergelombang. Ketinggian wilayah sangat bervariasi, dari ketinggian
sekita 441 meter dpl (diatas permukaan laut) sampai dengan
3.000-an meter lebih dpl. Daerah dataran tinggi 441 meter sampai
dengan 1.000 meter dpl, sedangkan daerah berbukit dan bergunung (bagian
pegunungan) berada pada ketinggian diatas 1.000 meter hingga 3.000 meter
lebih dpl titik tertinggi adalah 3.173 meter dpl, yaitu puncak Gunung
Dempo, yang sekaligus merupakan Gunung tertinggi di Sumatera Selatan.
Daerah Guning Dempo dengan lereng-lerenganya pada sisi timur dan
tenggara mencakup 58.19% dari luas wilayah kota Pagar Alam sekarang yang
633,66 hektar. Bukit dan Gunung yang terpenting diwilayah kota Pagar
Alam antara lain adalah Gunung Dempo (3.173 meter), Gunung Patah (2.817
meter), Bukit Raje Mendare, Bukit Candi, Bukit Mabung Beras, Bukit
Tungku Tige (Tungku Tiga), dan Bukit Lentur. Bagian wilayah kota yang
merupakan dataran tinggi, terutama bagian timur, umunya disebut “ Tengah
Padang “. Daerah pusat kota Pagar Alam yang meliputi kecamatan Pagar
Alam Utara dan kecamatan Pagar Alam Selatan atau wilayah bekas Marga
Sumbai Besak Suku Alun Due terletak pada ketinggian rata rata 600 sampai
3.173 meter dpl. Derah Besemah dialiri sejumlah sungai. Satu
diantaranya adlah sungai Besemah (Ayik Besemah). Pada zaman dahulu,
keadaan alamnya sangat sulit dilewati, menyebakan daerah ini jarang
didatangi oleh Sultan Palembang atau wakil-wakilnya (raban dan jenag).
Kondisi alam yang cukup berat ini menyebabkan sulitnya pasukkan Belanda
melakukan ekspedisi-ekspedisi meliter untuk memadamkan gerakan
perlawanan orang Besemah.
Mengenai
keadaan alam Besemah pada permulaan abad ke sembilan belas, menurut
pendatang Belanda dari karangan Van Rees tahun 1870 melukiskan. Sampai
dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit
didatangi disebelah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan
kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya
terdiri dari beberapa suku saja, mereka menamakan dirinya rakyat bebas
merdeka. Dari Barat Daya sulit ditembus ole orang-orang Bengkulu, dari
tiga sudut lain di pagari oleh Gunung-gunung yang menjulang tinggi dan
ditutupi oleh hutan yang lebat dan luas di daerah pedalam Palembang ASAL
MUASAL JEME BESEMAH Sampai sekarang masih belum jelas dari mana
sebenarnya asalusul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan
penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku besemah, masih
diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas, jauh berabad-abad sebelum
hadirnya mitos Atung Bungsu, ditanah Besemah, dilereng Guning Dempo dan
dareh sekitarnya, telah ada masyarakat yang memiliki kebudayaan tradisi
megalitik dan bukti-bukti budaya megalitik ditanah besemah sampai
sekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah sekarang
ini adalah keturunan dari pendukung budaya megalitik tersebut ?.
Menurut Ahad, jurai tue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasai bahwa
sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah sekitar Gunung Dempo, telah
datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa yang
tidak di ketahui asalnya. Suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jeme
Kam-kam, jeme Nik, jeme Nuk, jeme Ducung, jeme Aking, jeme Rebakau, jeme
Sebakas, jeme Rejang dan jeme Berige. Pada masa tanah disekitar Gunung
Dempo di duduki oleh jeme Rejang dan jeme Berige, datanglah Atung
Bungsu.
Dari cerita
orang-orang tua (jeme-jeme tue), secara fisik jeme Nik dan jeme Nuk
memiliki badang yang tinggi besar hidung mancung dan kulit putih
kemerahan. Jeme Ducung perawakan tubuhnya kecil, pendek, tetapi memiliki
kelincahan. Jeme Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah
keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jeme Rebakau, berperawakan
sedang, dan Jeme Sebakas, memiliki postur tubuhnya seperti kebanyakan
orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jeme Rejang dan jeme Berige
tidak jauh berbeda dengan jeme Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang
besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai
suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominant berasal dari
puyang Atung Bungsu. Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu
datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah didiami oleh suku Rejang
dan Berige. Ia sempat berdialog dengan salah seorang pimpinan suku
Rejang yang bernama Ratu Rambut Selake dari Lubuk Umbai yang
nasing-masing merasa berhak atas tanah Besemah. Melalui sumpah, akhirnya
Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang paling berhak adalah Atung
Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut “ jikalu
bulak, jikalu buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku”.
Sedangkan M. Zoem Derahap, yang dijuluki pak Gasak, dusun Negeri Kaye,
Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang di pimpin Ratu
Rambut Selake setelah mengakui tanah Besemah milk Atung Bungsu mereka
lalu diberi kedudukan sebagai sumbai dalam Jagad Besemah, tetapi tidak
masuk dalam sistem pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka
itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay. Sebagian masyarakat Besemah percaya
bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang ( Puyang
Serunting Sakti ) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang
Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal dibukit
siguntang, lalu pergi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya
menetap disuatu tempat yang disebut Padang Langgar ( Pelangkeniday ).
Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay yaitu puyang Panjang sebagai juray
kebalik-an baru menetap dibagian ilir tanah besemah yaitu di Balay
Buntar ( Lubuk Sepang ). Ratu Majapahit beranak 7 (tujuh) orang: 1.
Puyang Meradjo Saktie, 2. Puyang Meradjo Gantie, 3. Puyang Meradjo
Pandoe, 4. Puyang Meradjo Gandoe, 5. Puyang Meradjo Kedam, 6. Puyang
Poetri Sandang Bidoek, 7. Puyang Atoeng Bongsoe. Maka Ratu Sinuhun
memberi tahu pada anak laki-lakinya bahwa Poetri Sandang Bidoek akan
diambil anak [Dikawinkan] dengan Bagus Karang di negeri Raban, serta
akan dijadikan raja di Mojopahit (Majapahit). Anak laki-lakinya kecewa
sebab mengapa mereka yang laki-laki tidak dijadikan raja Mojopahit. Ada
permintaan dari Atoeng Bongsoe kepada Bagus Karang, kalau jadi raja di
Mojopahit yaitu minta ayam Papak Berambai Mas, memakai jalu intan
sekilan. Permintaan dikabulkan oleh Bagus Karang. Ratu Sinuhun menyuruh
ke-enam anak laki-lakinya berkarang mencari ikan. Maka Atoeng Bongsoe
berkarang digenting ulu Mana’ di Batanghari Cawang sampai habis ikannya.
Ikan dimasukkannya dalam boloh [Buluh=Bambu] Ritie Jadie. Sampai
sekarang Batanghari itu bernama Cawang Boloh Ritie dan tidak lagi
ditunggu ikan. Ketika Atoeng Bongsoe jalan dari [melalui] tanah Pasemah
yang pada waktu itu bernama Rimbo Dalam. Pada wktu itu belum ada seorang
pun yang tinggal didaerah ini, turun dari bukit Serelo lantas pulang ke
Mojopahit. Sampai di Mojopahit saudara puterinya sandang Bidoek telah
dikawinkan. Atoeng Bongsoe kecewa, mengapa tidak menunggu dia pulang
dari berkarang. Anak-anak Ratu Sinuhun kecewa, mereka lalu pergi
kebeberapa tempat, antara lain ke Loera Belido, ke Minangkabau, ke
Bugis, ke Aji Komering dan ke Bugis. Atoeng Bongsoe kawin dengan anak
ratu Benua Keling Senantan Boewih (Boeway). Atoeng Bongsoe mendapat 2
(dua) anak laki-laki, yaitu: 1. Boejang Djawo (Bujang Jawe), 2. Rio
Rakian. Pada suatu ketika Boejang Djawo memecahkan piring Ratu Benua
Keling. Anak laki-laki Ratu Benua Keling marah kepada Boejang Bongsoe
dan ia berkata bahwa ia mau pulang. Ratu Benua Keling membagi pusaka
(warisan). Atoeng Bongsoe mendapat warisan tanah bumi. Ia mengambil
tanah sekepal dan setitik air dan satu biji batu dimasukkan di dalam
tongkat. Bagian Puyang Atoeng Bongsoe Pati(h) Ampat Lawangan Ampat
Pepandin Delapan. Maka Atoeng Bongsoe berjalan nunggangi (naik) kelapa
balik mudik sungai sampai di Palembang. Ketemu dengan Putri Sandang
Bidoek. Maka Pati Ampat Lawangan Sandang Bidoek di Palembang. Sandang
Bidoek memberi satu Bendik bernama Si Awang-Awang. Kata Sandang Didoek
“Bilamana Atoeng Bongsoe sudah mendapat kepastian dimana akan bertempat
tinggal pukul bendik Si Awang-awang sampai kedengaran dari Palembang”.
Maka Atoeng Bongsoe meninggalkan satu meriam bernama Segoering. Kata
Atoeng Bongsoe “Kalau ada musuh dari luaran, tembakkan meriam Segoering,
supaya segala anak cucunya membantu perang”. Sesudah itu Atoeng Bongsoe
mudik sampai muara Lematang, maka air musi ditimbang dengan air
Lematang [Ternyata setelah ditimbang lebih berat ayiek lematang], Atoeng
Bongsoe [memutuskan] akan mudik Batanghari Lematang. Ketika Boejang
Djawe akan mati, dia meninggalkan pesan sama Atoeng Bongsoe, dimana
te,pat Atoeng Bongsoe menjadikan jgad minta pasangkan asap kemenyan
sembilan dan minta dipasangkan kelmbu tujuh lapis, maka Boejang Djawe
kembali hidup. Sesudah itu Atoeng Bongsoe naik ke darat berhenti didalam
rimba. Rimab ini dinamakannya Padoeraksa [artinya daerah yang baru
diperiksa]. Ketika Atoeng berada dalam rimna ini datanglah ratu dari
dusun Lubuk Oembay bernama Ratu Rambut Selake [Pimpinan orang Rejang].
Berkatalah ratu Rambut Selake: Apa sebab Atoeng Bongsoe menempati
tanahnya ? Dijawab oleh Atoeng Bongsoe, “ Tanah ini tanahku nian, sebab
waktu pulang berkarang di Genting Oeloe, mendapat ini tanah dan belum
ada satu orangpun yang menunggunya
[menempati]”. Dijawab lagi oleh ratu Rambut Selake, “Beghani sumpah,
kalau beghani sumpah, ambiklah!”. Maka tanah ini dikasihkan kepada
Atoeng Bongsoe. Sesudah itu Rambut Selaku mati, anak cucunya pindah ke
Rejang. Setelah itu Atoeng Bongsoe pindah dari rimba Padoekrakso dan
kemudian membuat dusun Benua Keling. Suatu ketika istrinya Atong
Bongsoe, putri senantan Boewih turun membasuh beras memakai bakul,
dimasuki ikan Semah, Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Besemah [yang
berarti sungau yang banyak ikan semahnya]. Sesudah itu Atoeng Bongsoe,
sesuai dengan pesan Bujang Dje\awe, ia membakar kemenyan dan memasang
kelambu tujuh lapis pada waktu malam 14 maka bujang Djawe turun bergelar
Puyang Dewate, dialah yang menjadikan Jagad Besemah, sampai 5 (lima)
gilirtidak diperanakkan. Setelh puyang Dewate mati, berturut-turut
terdapat puyang: 1. Indiro (Indra) sakti, 2. Indira Muksa, 3. Telage
Muksa, 4. Cendane Kilam, dan 5. mandoelike.
Puyang
Mandoelike beranak 5 ( lima) orang, yaitu: 1. Puyang Sake Semanung
(Seminung), menjadikan anak [Sumbai] Ulu Lurah, 2. Puyang Sake Sepadi
menjadikan sumbai Tanjung Ghaye, 3. Puyang Seghatus, menjadikan anak
Bayoeran, 4. Puyang Sake Saktie menjadikan marga Jati, 5. Puyang Seribu,
mati bujang, tidak ada keturunan. Keempat Puyang diatas menjumputi
{sic.) Depati Lang Bidaro (Depati Karang udare= Depati Karang Widara)
dengan Pangeran Sido Kenayan [Raja Palembang] mudik [ke tanah] Pasemah
minta tunjuki adat dengan hukum maka depati Lang Bidaro dengan Pangeran
Sido Kenayan mudik ke tanah Pasemah membawa adat dengan hukum aturan di
dalam Jagat yang ditetapkan Kerte [Aturan] delapan, bagaimana adat,
siapa salah disalahkan, siapa benar dibenarkan. Dan Jagat Pasemah
ditetapkan Sindang Merdike, kalau ada budak lain atau barang hilang di
Palembang, timnbul di Pasemah, minta pulangkan di Palembang, siapa yang
menolong, di Palembang dapat Pesalin sepengadap. Dan empat pesirah
ditetapkan memerintah di “Jagat Pasemah”. Bila salah seorang pesirah itu
mati, akan diganti orang lain. Tetapi penggantinya harus mendapatkan
persetujuan Sultan Palembang. Pangeran Sido Kenayan dengan Depati Lang
Bidaro membagi tapal batas tanah Pasemah dengan Palembang. Dimulai dari
Way Umpu titik di penyebrangan Bantan, terus di Batu Banjar, laju di
gunung Seminung Ranau, dari situ turun Naurebo [terletak ditengah gunung
Seminung Ranau], laju di pematang Sengang tengah Ranau, Laju terus
tengah laman dusun Kuripan, ‘mungga Bukit Nanti, turun di Muare Kemumu
[Kisam], mungga di tangan Bukit Nanti terus di Pematang Galang turun di
Lubuk Muara Cendawan, laju di Batu Bindoe Muara Enim, dari situ mungga
Bukit Campang di Pagar Gunung, turun di Ayiek ijuk, terus di Lubuk Muara
Senangsangan Mulak Ulu, laju di Danau Batu, turuhan di Arahan Tungku
Tiga, netak Bubungan Arahan Tiga, laju di Padang Tamba, mungga bukit
Kuantjung Berghuk, dari situ terus di Petai Campang Due Bukit Ulu Pangi
(Kikim), dari situ laju di Sialang Pating Besi di Bukit Sanggul, terus
di Bukit Rindu Ati Bengkulu, turun di Padang Tjupak, terus di Ulu Tuban,
titik di teluk Merampuyan, laju di Padang Muara Selibar Ulu Bengkulu,
turun di Laut Besar, sampai di Tampaan Gadak Sebelah Ulu, yang tersebut
ini tanah bumi dikasihkan oleh Pangeran Sido Kenayan pada orang Pasemah.
Dari situ ke sebelah ilir Pangeran Sido Kenayan dengan Depati Lang
Bidaro yang punya.
Waktu itu
tanah Pasemah masih rimba semuanya. Semua orang bikin ladang darat
[ume]. Dibelakang ini tanah Pasemah jadi padang membuat siring untuk
lahan sawah. Dan lagi aturan Pasemah kalau sawah angkitan 100 bake
harganya 100 gulden. Tanah yang sudah dibuka, kemudian ditinggalkan
(talang), boleh digarap orang lain asal ada kata mufakat (berunding).
Orang yang tidak bikin sawah tidak dihukum Sultan Palembang. Jika ada
tanah yang bisa dibikin sawah,bu kan Pesirah yang membagi tanah itutapi
orang yang bikin sawah sendiri, lebih dahulu dikasih tahu Pesirah
Awal sejarah
pemerintahan tradisional di Besemah tidak terlepas dari sistem
pemerintahan Kesultanan Palembang. Kaitan atau hubungan antara
Kesultanan Palembang dengan daerah-daerah diwilayah kekuasaannya
dikatakan oleh Robert Heine Gildern (1982). “ di Asia Tenggara Ibukota
Kesultanan Palembang bukan saja merupakan pusat politis dan kebudayaan
dari suatu kerajaan dan masyarakat sekitarnya, juga merupakan pusat
magis dari kerajaan PEMERINTAHAN TANAH BESEMAH DIZAMAN DULU Awal sejarah
pemerintahan tradisional di Besemah tidak terlepas dari sistem
pemerintahan Kesultanan Palembang. Kaitan atau hubungan antara
Kesultanan Palembang dengan daerah-daerah diwilayah kekuasaannya
dikatakan oleh Robert Heine Gildern (1982). “ di Asia Tenggara Ibukota
Kesultanan Palembang bukan saja merupakan pusat politis dan kebudayaan
dari suatu kerajaan dan masyarakat sekitarnya, juga merupakan pusat
magis dari kerajaan.
Selain
sebagai pusat aktivitas kekuasaan politis kebudayaan, dan magis
Kesultanan Palembang secara stuktural membagi wilayahnya sebagai
ibukota, yang memang dibawah kendali Sultan langsung. Daerah-daerah yang
dekat dengan wilayah kerajaan disebut wilayah Kapungutan, sedangkan
wilayah yang berada jauh dari pusat kekuasaan Kesultanan Palembang
disebut wilayah Sindang yang lebih bersifat merdeka dan hubungannya
hanya mengirimkan seba kepada sultan. Diantara kapungutan dan sindang
tersebut adalah wilayah Sikap yang mempunyai tugas-tugas tertentu dari
sultan. Wilayah kesultanan palembang diatas, tidak begitu identik dengan
wilayah provinsi Sumatera-Selatan sekarang ini. Dalam struktur hirarki
pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam, strata paling atas dan
paling berkuasa adalah sultan, sebagai pengemban “ wahyu Tuhan “. (
pulung, konsep keraton Jawa ) untuk memerintah. Susuhunan adalah gelar
yang diberikan kepada sultan yang tidak menjabad lagi.
Struktur
kedua adalah kalangan bangsawan atau pangeran yang menguasai lima sampai
duabelas dusun yang merupakan bagian dari wilayah kesultanan yang
diberikan sultan untuk nafkah hidup mereka. Pemberian kekuasaan atas
wilayah tersebut, disebabkan sultan Palembang tidak mungkin memberikan
gaji kepada semua pangeran yang cukup banyak jumlahnya. Selama seorang
pangeran tetap loyal dan disukai oleh sultan, kedudukannya dapat
diwariskan kepada keturunannya.
Struktur
ketiga adalah marga-marga sikap yang terdiri dari beberapa dusun atau
talang. Penduduk dusun itu berkewajiban mengurusi gawe raja secara
pribadi. Selain juga bertugas mengangkut barang barang penghasilan dari
sultan, tetapi mereka dibebaskan dari biaya pembayaran pajak dan
tiban-tukon ( Amin, 1996). Struktur yang ke empat adalah marga-marga
sindang yang berfungsi sebagai penjaga batas yang merdeka. Suku Besemah
dalam status ini mereka tidak dibebani tiban-tukon maupun pajak serta
pekerjaan sultan lainnya. Kewajiban mereka hanya menjaga tapal batas
agar rakyat diwilayah kesultanan palembang tidak melarikan diri ke
Lampung atau Banten. Kewajiban ini terutama dibebankan kepada
sumbay-sumbay yang terdapat didaerah Besemah. Dalam sistem pemerintahan
tradisional besemah dikenal istilah sumbay dan juray. Pengertian sumbay
ini perlu dijelaskan agar maknanya dapat diketahui oleh orang besemah
yang masih hidup sekarang dan yang akan datang. Pada masa puyang pendiri
Besemah masih hidup, ia mempunyai juray-juray. Juray adalah cikal bakal
adanya sumbay. Juray suatu sumbay ada yang menetap ditanah besemah
tetapi ada juga yang merantau keluar dan tidak kembali lagi. Mereka
kemudian membaurkan diri ( nyunggutka ) dan beradaptasi dengan
lingkungan barunya ( Shoim, 1989). Anak cucu puyang ini membentuk tata
kehidupan sesame mereka. Dari sini timbul keinginan untuk mendudukkan
juray dari puyang-puyang lain, agar tidak muncul persengketaan diantara
keturunan mereka. Juray membentuk kaum-kaumnya dikemudian hari ia
menjadikan kaumnya sebagai suatu kesatuan yang
dinamakan sumbay. Dengan demikian sumbay merupakan tali pengikat
diantara sesame juray dan juga dalam sumbay, sehingga kata seganti
setungguan dalam petulay atau sumbay dapat diwujudkan. Makna sumbay dan
juray adalah sama karena bermakna keturunan, tetapi dalam kedudukannya
menunjukkan adanya perbedaan, karena juray satu dengan juray lainnya
kadangkala berbeda nama sumbay. Perkembangan keturunan juray berada pada
tempat yang sama tetapi dapat juga terjadi ditempat yang lain, karena
ada juray yang telah mendirikan dusun lain. Akan tetapi anatar sumbay
dengan juray selalu mempunyai ikatan, terutama mereka dalam satu
keturunan puyang yang sama. Dalam perkembangan selanjutnya, pada
pertengan abad ke 19, penduduk besemah sudah terbagi atas enam Sumbay,
yaitu : Sumbay Pangkal Lurah (berjumlah 24 dusun) Sumbay Ulu Lurah
(berjumlah 38 dusun) Sumbay Mangku Anum (berjumlah 19 dusun) Sumbay
Besak (berjumlah 52 dusun) Sumbay Penjalang Sumbay SemidangMARGA-MARGA
TERAKHIR DI KABUPATEN LAHAT (TANAH BESEMAH), YANG MENGGUNAKAN NAMA
SUMBAY Marga Penjalang Suku Empayang Kikim dan Saling Ulu (PSEKSU), di
Sukajadi Kikim; Kecamatan Kota Lahat; 11 DusunMaraga Penjalang Suku
Empayang Ilir (PSEI), di Gunungkerta, Kecamatan Kikim, 8 dusun. marga
Penjalang Suku Lingsing (PS Lingsing), di Pagarjati, Kecamatan Kikim; 7
dusunMarga Penjalang Suku Pangi (PS Pangi), di Nanjungan, Kecamatan
Kikim; 7 dusun
Maraga
Sumbay Besar Suku Alundua (SPS Alundua), di Alundua, Kecamatan Kota
Pagaralam; 28 dusun. Marga Sumbay Mangku Anum Suku Muara-Siban (SMAS
Muara-Siban), di Bumiangung, kecamatan Kota Pagaralam; 20 dusun. Marga
Semidang Suku Pelangkendiday (SS Pelangkendiday). Di Pelangkendiday
(kemudian di Sukajadi), kecamatan Kota Pagaralam; 7 dusun.
Maraga
Sumbay Besar Suku Lubukbuntak (SBS Lubukbuntak), di Lubukbuntak,
kecamatan kota Pagaralam; 19 dusun. Maraga Sumbay Besar Suku Kebun-jati
(SBS Kebun-jati) di Kebun-Jati (Kemudian Airdingin baru), Kecamatan
Kota-Agung (Sebenarnya Kota-Agung, dari Kute-agung); 27 dusun. Marga
Penjalang Suku Tanjungkurung (PS Tanjungkurung), di Tanjungkurung
(kemudian di Tanjungbay), kecamatan Kuta-agung; 5 dudun. Marga Sumbay
Mangku Anum Suku Penantian (SMAS Penantian), di Penantian (kemudian di
Talangtinggi), Kecamatan jaray; 21 dusun.
Marga Sumbay
Tanjung Raya Suku Muara-payang (STRS Muara-payang) kemudian ditalang
tinggi , kecamatan jaray; 7 dusun. Marga Sumbay Ulu Lurah suku
pajarbulan (SULS Pajarbulan), di Pajarbulan (kemudian disimpingtiga
Sumur), Kecamatan Jaray; 29 dusun. Marga Semidang suku Seleman (Marag
Semidang), di Seleman, kecamatan Muara-pinang; 10 dusun. Diluar wilayah
Kabupaten Lahat (Tanah Besemah), marga-marga yang menggunakan nama
Sumbay, yaitu kesatuan genealogis masyarakat Besemah atau masyarakat
asal Besemah adalah Marga Semidang Alundua suku 2, Kecamatan
Pengandonan, Kabupaten Ogan Kemering Ulu (OKU); Provinsi Sumatera
Selatan; 2 dusun. Marga Semidang-Gumay, Kecamatan Pino, Kabupaten
Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. marga Semidang Alas, Kecamatan
talo, Kabupaten bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu.Dasar-dasar
pembentukan marga-marga terakhir di Sumatera Selatan Perda
No.2/DPR.Gr.SS/1969; penghapusannya berdasarkan SK Gubernur Kdh Tk.I
Sumsel. Diposting oleh Besemah di 10:02 PM 7 komentar Subscribe to:
Posts (Atom) Cerite Besemah About Me: Jeme Besemah adalah orang-orang
pemberani, Diakui oleh penulis kolonial. Berwatak setia kawan,Dan loyal
terhadap komitmen yang membuat saudara Ataupun teman seperjuangan Sultan
Palembang, Meneruskan perjuang setelah Sultan Mahmud Badaruddin II
Dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1821. Orang-orang Sindang Merdika di
besemah menolak tindakan Belanda tersebut. Mereka meneruskan perjuangan
di besemah pada tahun 1821 Sampai 1866. Bahkan pada saat-saat
pertempuran melawan Belanda Di Palembang 1821 Sampai sekarang masih
belum jelas Dari mana sebenarnya asal usul suku Besemah. Apakah
teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarangBerlaku
juga bagi suku besemah, masih diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas,
jauh berabad-abad sebelum hadirnya mitos AtungBungsu, ditanah Besemah,
dilereng Gunung Dempo dan daerahSekitarnya, telah ada masyarakat yang
memiliki kebudayaan tradisiMegalitik dan bukti-bukti budaya megalitik
ditanah besemah sampaiSekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah
jeme Besemah Sekarang ini adalah keturunan dari Pendukung budaya
megalitik tersebut ?Pengenalan orang-orang Eropa, terutama Belanda dan
Inggris Terhadap orang Besemah pada awalnya sangat apriori. Orang
Belanda dengan picik menyebutkan :## dat de Pasoemhers zonen gebragt (
orang pasemah tak akan diajak bicara jika tidak diberi unjuk kekuatan
militer ) Demikian juga Sir Tomas Raffles, seorang Gubernur Jendral Di
Bengkulu, pertama kali dia menganggap orang Besemah sebagai The pasumahs
were a savage, ungovernable race, and that no termscould ever be made
with them (Orang Pasemah adalah buas, ras yang tidak berpemerintahan dan
tidak ada istilah yang dapat sesuai untuk mereka.) Setelah menempuh
perjalanan yang berat dan melelahkan mendaki Gunung dan bukit serta
menembus belantara, bertemula Raffles Dengan orang Besemah.
Perjalanannya ini adalah perjalanan khusus untuk mententramkan orang
besemah. Who I Want to Meet: Tegakkah Ganti Nga Tungguan, Jangan Manakah
Batu Ke Luagh!!! MAKIN tenggelamkah “Sindang Merdike” saat ini? Menurut
budayawan besemah “Mohammad Saman”..Begitu kekuatan Belanda merambah ke
Besemah,Mulailah terjadi pergeseran nilai-nilai adat, budaya, dan Sistem
pemerintahan di tanah besemah.
Dampak berikut juga menyentuh berbagai
peran dan fungsi Lembaga-lembaga lama yang ada di masyarakat ke lembaga
Baru yang sesuai dengan keinginan penguasa. Lembaga-lembaga lama misalnya
hukum adat dan tradisi lain,Semakin tidak berfungsi. Bahkan, puncaknya
memasuki Abad XIX, berbagai lembaga tradisional di tanah besemahTerasa
mulai keropos dan pada akhirnya hilang digerogoti Kolonial Belanda. "Maju
kah agi tanah Besemah and…i want to meet ALL The people that ever Live
or still Live in PAGARALAM.."
Dihimpun dari Narasumber : http://adekabang.wordpress.com/



Tidak ada komentar:
Posting Komentar